MUKHTAR LUTFI/RADAR KEDU DEMI AIR : Warga di Kecamatan Ngluwar Kabupaten Magelang harus susah payah membuat saluran air untuk memenuhi kebutuhan dan irigasi pertanian.

MUKHTAR LUTFI/RADAR KEDU DEMI AIR : Warga di Kecamatan Ngluwar Kabupaten Magelang harus susah payah membuat saluran air untuk memenuhi kebutuhan dan irigasi pertanian.
MUKHTAR LUTFI/RADAR KEDU
DEMI AIR : Warga di Kecamatan Ngluwar Kabupaten Magelang harus susah payah membuat saluran air untuk memenuhi kebutuhan dan irigasi pertanian.

Kekeringan di Jawa Tengah yang Rutin Terjadi Tiap Tahun
Kekeringan yang terjadi di berbagai wilayah di Jawa Tengah sepertinya bakal terus terjadi hingga tahun-tahun berikutnya. Hal ini bisa dilihat dari volume 38 waduk besar selalu mengalami penurunan sejak lima tahun silam.
Mukhtar Lutfi, Mungkid
Kerusakan lingkungan di daerah resapan air menjadi salah satu faktor paling dominan penyebab kekeringan. Banyak pohon ditebang dan alih fungsi hutan. Akibatnya, daerah tangkapan air berkurang dan waduk-waduk tidak terisi maksimal.
“Sejak lima tahun lalu (volume) selalu turun. Tak pernah ada kenaikan volume di musim kemarau,” kata Kepala Seksi Pembangunan dan Peningkatan Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Provinsi Jawa Tengah Suwondo, Rabu (1/10).
Menurutnya, selama September kemarin volume air di 38 waduk di Jateng tercatat hanya tinggal 962,246 meter kubik. Penyusutan volume air waduk terjadi mulai April lalu. Di bulan keempat tersebut, volume seluruh waduk tercatat 1.453.000 meter kubik. Kemudian menyusut pada Juni (1.294.035 meter kubik), Juli (1.227.848 meter kubik) dan Agustus (1.128.583 meter kubik).
“Tahun ini volume waduk memang terus menyusut karena musim kemarau. Dari data PSDA volume waduk memang ada kecenderungan menurun selama lima tahun terakhir. Tahun depan ada kemungkinan turun lagi,” kata Suwondo dalam Dialog Terbuka Kekeringan di Ruang Cemerlang Setkab Magelang.
Suwondo mengatakan dari 38 waduk di Jawa Tengah, 9 diantaranya sudah dalam kondisi kosong karena memang waduk kecil. Kemudian 9 waduk dengan volume air sesuai rencana dan 9 waduk dengan volume air di bawah rencana.
Selain itu ada 17 waduk di atas rencana yang terdiri dari lima waduk besar dan 12 waduk kecil. Untuk itu, PSDA mengajak masyarakat untuk melakukan gerakan penghematan air dan penerapan budi daya pertanian hemat air.
Menurutnya, mengatasi kekeringam tidak cukup hanya dengan droping air namun harus bisa menciptakan kondisi lingkungan yang baik sehingga mata air bisa lestari. “Kita harus bisa menjaga fungsi hutan lindung,” jelas Wahyudi Joko dari Badan Lingkungan Hidup (BLH) Provinsi Jawa Tengah.
Kabid Penangananan Darurat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng Gembong Purwanto menambahkan, berdasarkan Millennium Development Goals (MDGs), penyediaan air bersih menjadi kewajiban pemerintah untuk memenuhinya. Ia menilai data kekeringan Jawa Tengah cukup unik seperti terjadi di Kabupaten Demak dan Cilacap. Di kedua wilayah tersebut ada air namun merupakan air payau sehingga tidak bisa dikonsumsi.
“Pemerintah bertanggungjawab memenuhi kesulitan air bersih bagaimanapun caranya. Sebenarnya tidak perlu droping jika semuanya sudah tersistem. Singapura 60 persen kebutuhan air dipasok dari Malaysia dan Indonesia,” kata Gembong. (*/ton)