BATANG – Septian Stiya Man­dala, 31, mandor Proyek PLTU Batang, warga Desa Selorejo, RT. 06 RW 03, Kecamatan Selorejo, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, Selasa (30/9) pagi kemarin, te­was di RS QIM Batang. Man­dala tewas setelah sebelumnya Senin (29/9) malam, dikeroyok oleh 4 orang pemuda warga Desa Depok, Kecamatan Kandeman, Kabupaten Batang.
Kejadian bermula Senin (29/9) malam kemarin, saat Septian Stiya Mandala, sedang mengerjakan jalan tembus Desa Sigandu hingga Desa Ujungnegoro. Ia sedang berada dibase camp Desa Depok, Kecamatan Kandeman.
Tak lama berselang, datang 4 pemuda warga Desa Depok dalam kondisi mabuk, meminta uang rokok. Karena mereka sering meminta uang rokok, dan kebetulan Mandor proyek tersebut tidak memegang uang, akhirnya permintaan itu ditolak halus.
Karena tidak diberi uang rokok, Slamet Santoso alias Atok, 20, warga Dukuh Depok Wetan, Desa Depok, Kecamatan Kandeman, justru marah dan menantang berkelahi.
Namun tidak dilayani oleh Mandala, keempat pemuda ter­sebut makin kalap dan menggeroyok Mandala sang mandor proyek dengan menggunakan batu kali, yang ada disekitar base camp. Hingga Mandala mengalami luka serius di bagian kepalanya.
Melihat adanya keributan di basecamp proyek, Abadi, 40, supir truk proyek, warga Dukuh Gondangan, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, membantu melerai pengeroyokan tersebut. Namun naas, ia justru ikut dianiaya hingga mengalami luka serius di kepala dan tangan.
Tindakan brutal itu baru berhenti, setelah beberapa karyawan proyek beramai ramai mengusir keempat warga Desa Depok tersebut. Malam itu juga, Mandala dan Abadi dilarikan ke RS QIM, untuk mendapatkan perawatan medis, akibat lukanya yang serius. Namun karena sudah parah, Mandala akhirnya tewas, sedangkan Abadi kondisinya masih kritis.
Harto, 50, karyawan Proyek, warga Desa Gedok, RT. 02 RW 09, Kecamatan Canan, Kabupaten Blitar, yang menolong Mandala saat dikeroyok mengungkapkan, 4 orang tersebut sering meminta uang rokok, kepada Mandala.
“Malam itu, 4 pemuda yang jelas dalam kondisi mabuk, saat tidak diberi uang oleh Mandor, mereka langsung marah dan mengeroyok dengan batu, hingga Mandor dan supirnya luka parah. Sekarang masih dirawat RS QIM, namun Mandor Proyek Mandala akhirnya tewas,” ungkap Harto, saat memberikan keterangan di Polres Batang.
Satreskrim Polres Batang, datang ke lokasi kejadian, dan langsung meminta keterangan sejumlah saksi. Senin (29/9) malam itu juga, aparat berhasil menangkap dua pelaku utama pengeroyokan, yakni Slamet Santoso alias Atok, 20, dan Agus, 19, warga Dukuh Depok Wetan, Desa Depok, Kecamatan Kandeman.
Sedangkan dua pelaku lainnya langsung melarikan diri, saat mengetahui dua rekannya tertangkap Polisi.
“Empat pemuda pelaku pengeroyokan terhadap pekerja proyek, adalah warga Depok, Kecamatan Kandeman. Dua pelaku sudah ditangkap dan dua lagi melarikan diri. Namun dua pemuda yang melarikan diri tersebut, identitasnya sudah kami ketahui. Dalam waktu dekat mereka akan kita tangkap,” kata Kasubag Humas Polres Batang, AKP Makhsus optimis.
Penyebab aksi kekerasan itu berbeda keterangan dengan pelaku. Slamet Santoso mengaku kesal dengan pekerja proyek PLTU, karena dengan adanya proyek jalan tembus dari Desa Sigandu hingga Desa Ujungnegoro. Jalan di Desa Depok menjadi rusak parah, sehingga sulit untuk dilalui. “Saya kecewa dengan jalan rusak di Desa Depok. saat kejadian saya masih kondisi mabuk, jadi marah saat tidak diberi uang rokok,” ujar Atok, saat diperiksa Satreskrim Polres Batang. (thd/sas)