FOTO A-UNDIP_NURCHAMIM (1)

TEMBALANG – Aksi demonstrasi puluhan mahasiswa mewarnai Pemilihan Rektor (Pilrek) Universitas Diponegoro (Undip) di depan Gedung Prof Sudharto Kampus Tembalang, Senin kemarin (29/9). Aksi yang dimotori Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas dan BEM Fakultas tersebut, berlangsung sebelum sidang Pilrek dibuka.
”Setiap dilakukan Pilrek, kami (mahasiswa, Red) selalu tidak dilibatkan dalam prosesnya. Padahal ini adalah negara demokrasi. Tapi mengapa kami tidak dilibatkan dalam hajatan besar kampus Undip ini,” kata Presiden BEM Undip, Taufik Aulia Rahmat berapi-api.
Selain itu, kata Taufik, selama ini Pilrek Undip hanya menjadi konsumsi pejabat dan aktivis mahasiswa Undip. Padahal di luar itu, masih banyak mahasiswa Undip yang tidak mengetahui bahwa Undip sedang melakukan pemilihan rektor. ”Itu menunjukkan jika para pejabat Undip terkesan mendiskreditkan mahasiswa yang lain,” ujar Taufik.
Ia menyayangkan, kurangnya inisiatif panitia Pilrek yang tidak pernah melakukan pertemuan forum umum antara calon rektor dan mahasiswa. Karena itu, dalam aksi kali ini mahasiswa menuntut beberapa poin yang dialamatkan kepada rektor baru yang akan memimpin Undip 4 tahun ke depan.
Salah satu poin tuntutan mahasiswa adalah penjaminan biaya kuliah yang lebih terjangkau. ”Selama ini, biaya kuliah di Undip banyak dikeluhkan mahasiswa. Selain tinggi, prosesnya juga rumit, seperti adanya Uang Kuliah Tunggal (UKT),” katanya.
Dikatakan Taufik, tentang anggaran belanja Undip juga tidak transparan. ”Selama ini, mahasiswa tidak mengetahui anggaran belanja di kampus Undip. Karena itu, kami menuntut agar transparansi anggaran dilakukan. Dimuat di website Undip kan bisa,” lanjut Taufik.
Tidak hanya itu, fasilitas yang memadai terkait kegiatan mahasiswa juga belum memenuhi kriteria standar. Karena itu, mereka menuntut apresiasi dan fasilitas terkait anggaran penelitian mahasiswa ditingkatkan.
”Apresiasi bagi mahasiswa yang berprestasi, selama ini kurang. Kami tidak meminta imbalan. Selain itu, kami meminta rektor melakukan pertemuan dengan mahasiswa 2 kali setahun,” pungkas Taufik.
Menghadapi tuntutan mahasiswa tersebut, Rektor Undip terpilih, Muhammad Nasir, mengatakan bahwa hingga kini pihak universitas telah melaksanakan transparansi anggaran sebagaimana mestinya. ”Transparansi anggaran sudah dilakukan sejak rektor terdahulu, rapat anggaran juga sudah dilakukan. Problemnya, yang bukan sebagai eksekutor anggaran malah ingin terlibat di dalamnya. Itu yang tidak pas,” kata Nasir.
Dikatakan Nasir, pengaturan anggaran universitas sudah diikat oleh peraturan menteri keuangan yang terkait proses penganggaran. ”Yang harus kami lakukan terkait transparansi adalah pemanfaatan anggaran kepada semua stakeholder di Undip, baik itu mahasiswa, dosen, dan seluruhnya,” lanjut Nasir.
Menurut Nasir, semua pengalokasian anggaran universitas, selama ini sudah sesuai proporsi dan skala prioritas. ”Itu pun yang sudah disusun oleh rektor ini belum tentu nanti di Jakarta disetujui,” katanya.
Di hadapan mahasiswa tersebut, Nasir mengatakan pihaknya ingin melanjutkan kepemimpinan Undip dengan membentuk budaya akademik agar menjadi riset university. ”Maka tantangan yang paling berat adalah meningkatkan penelitan pada dosen dan mahasiswa untuk bisa masuk ke dalam jurnal-jurnal dunia,” pungkasnya.
Sedangkan dalam proses pemungutan suara dalam Pilrek Undip periode 2014-2018 dilakukan sejak pukul 11.15. Hingga penghitungan suara, anggota senat Undip yang hadir sebanyak 126 anggota dari sebanyak 133 anggota senat yang masih aktif.
Jumlah itu ditambah sua­ra Menteri Pendidikan dan Ke­bu­dayaan (Mendikbud) yang diwakilkan kepada Sekretaris Ditjen Dikti Kemdikbud, Patdono Suwignyo, sebanyak 72 suara atau 35 persen dari total suara senat Undip. Sehingga total suara dalam Pilrek Undip kali ini sejumlah 198 suara.
Dalam pilrek tersebut, Mu­hammad Nasir berhasil meng­ungguli 2 kandidat lain. Adapun hasil perhitungan suara, untuk Dekan Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Muhammad Nasir sebanyak 148 suara, diikuti Ketua Jurusan Akutansi FEB Prof M. Syafruddin dengan 36 suara dan disusul Ketua Program Doktor dan Magister Ilmu Lingkungan, Prof Purwanto dengan 14 suara.
Sementara itu, dalam kesempatan terpisah Pilrek juga dilakukan di Universitas Negeri Semarang (Unnes). Fathur Rokhman terpilih menjadi Rektor Unnes periode 2014-2018. Ia memperoleh 59 suara dari 107 suara senat dan kementerian dalam Pilrek, Senin (29/8).
Dua calon rektor lain yaitu Masrukhi dan Edy Cahyono masing-masing memperoleh 34 dan 14 suara. Dalam pemilihan yang digelar di Rektorat Kampus Sekaran, anggota senat yang hadir adalah 68 dari 73. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) berhak atas 35 persen suara atau 39.
Sekretaris Ditjen Dikti, Patdono Suwignyo, yang bertindak sebagai utusan Mendikbud mengatakan, Rektor Unnes terpilih memiliki tantangan besar berkaitan dengan peningkatan mutu, akses, daya saing dan perbaikan tata kelola perguruan tinggi.
”Renstra Dikti 2015-2019 yang mengemuka adalah perguruan tinggi dapat melakukan inovasi demi daya saing bangsa. Maka, perguruan tinggi harus terus berbenah,” katanya. Fathur mengatakan, proses pemilihan belum selesai. Setelah ini, katanya, Senat akan mengirimkan laporan kepada Kementerian. Kementerian yang akan menentukan jadwal pelantikan.
Ketika ditanya apakah dirinya sudah menyiapkan nama-nama yang akan mengisi struktur pejabat di lingkungan Unnes, ini jawabannya. ”Itu pertanyaan yang sebenarnya sulit untuk saya jawab. Karena hingga kini saya belum punya nama-nama yang akan mengisi posisi-posisi tertentu,” pungkas Fathur. (ewb/ida/ce1)