BOKS-SUKAMDI

Kendati bahan bakar rumah tangga sudah dialihkan ke gas elpiji, bukan berarti mematikan bisnis arang. Hal itu dibuktikan oleh Perajin Arang, Sukamdi. Seperti apa?

EKO WAHYU BUDIYANTO

MATA pedih akibat kepulan asap putih, sudah menjadi santapan sehari-hari bagi para pembuat arang di Kelurahan Tinjomoyo, Kecamatan Banyumanik ini. Mereka sudah terbiasa bermandikan peluh dan noda hitam di tubuhnya. Bau sangit dari asap yang menerpa tubuh dan dipandang sebelah mata oleh banyak orang, sudah dianggap biasa. Tak terkecuali, Sukamdi yang juga warga Desa Tinjomoyo ini.
Mata pedih dan berair tak menyurutkan semangat pria beranak lima ini untuk terus membakar kayu hingga jadi arang. Sudah 8 tahun ini, Sukamdi bersama 10 orang lainnya, menggeluti usaha yang berkutat dengan api, asap, dan arang hitam. Dari bisnis tersebut, dia bertahan hidup.
Untuk memulai pekerjaannya, Sukamdi, pertama kali harus menata kayu berbagai ukuran hingga ketinggian sekitar 1,5 meter dalam masing-masing petak dengan rongga di bawahnya. Tumpukan dedaunan kering kemudian disusun di atas tumpukan kayu tersebut. Hal ini, menurut Sukamdi, supaya api bisa membakar kayu-kayu itu secara sempurna dan merata.
Dirinya ditemani 2 karyawan, terus menjaga api tetap menyala setiap hari agar proses pembakaran kayu berlangsung sempurna. Ketika kayu sudah terbakar secara sempurna, api yang masih menyala kemudian dipadamkan dengan air dan tanah. Arang yang sudah jadi itu kemudian didiamkan selama beberapa hari sebelum dibongkar untuk dijual.
Pria kelahiran 1952 silam ber­kata, dirinya berkecimpung dalam bidang ini, awalnya karena terhimpit kebutuhan ekonomi yang tiap hari semakin tinggi. Dimulailah usaha pembuatan arang tersebut. Ia terkadang dibantu oleh warga sekitar de­ngan kompensasi upah yang seadanya. Jika pesanan banyak, meski dibantu 2 karyawannya, tetap kewalahan.
Hasil penjualan arangnya bisa dibilang cukup besar. Setiap 3 hari dalam seminggu, dirinya harus mengirim arang buatannya ke restoran-restoran yang sudah menjadi langganannya dan warung-warung sate.
Arang buatannya kini sudah terdistribusi di kota-kota besar di Jawa Tengah. Di antaranya, di Kabupaten Kendal, Batang, Kota Semarang, Kabupaten Semarang, bahkan ada yang mencapai Kabupaten Purwodadi.
Pria yang sudah memiliki 2 cucu tersebut mengaku, ia mendapatkan kayu berasal dari penjual kayu langganannya yang dibeli setiap satu mobil bak terbuka, yang kemudian dibakar dijadikan arang berkualitas. Bahkan ia sudah memiliki pelanggan penjual kayu dari wilayah Kabupaten Blora dan Kabupaten Purwodadi.
”Dari Blora dan Purwodadi, kayunya lebih berkualitas. Banyak dahan-dahan kayu jati, sehingga arang yang saya produksi tidak mudah habis ketika dibakar,” terangnya saat ditemui Radar Semarang di kediamannya, Senin (9/29).
Pelanggannya banyak yang mengaku senang dengan ku­a­litas arang buatannya, jika mem­peroleh kayu dari daerah tersebut. Namun begitu, rupiah yang ia keluarkan untuk mendatangkan bahan baku kayu dari Kabupaten Blora dan Kabupaten Purwodadi, berbeda dengan kayu dari dalam Kota Semarang.
”Kalau dari Semarang sendiri, kayu-kayunya kebanyakan kayu Sengon, Rambutan, dan Duren. Kayu-kayu tersebut jika dibuat arang menjadi tidak bagus dan mudah habis ketika dibakar,” terang Sukamdi.
Menurutnya, kayu-kayu yang bagus digunakan sebagai bahan baku pembuatan arang adalah kayu mangga, kayu kelengkeng, kayu angsana, kayu mahoni, dan kayu jati. Namun kendalanya, kayu-kayu bagus tersebut susah didapatkan. Dari satu kolt, ideal dapat menjadi 9 karung arang. “Itupun sampai kewalahan,” kata warga RT 1 RW 8 ini.
Dalam sehari, ia dapat memproduksi 12 karung arang. ”Proses pembuatan arang sulit, kita harus lebih dulu memilah-milah mana kayu yang kualitasnya bagus dibuat arang, mana yang tidak,” lanjutnya.
Untuk kayu-kayu yang tidak dapat dibuat arang, ia membendelnya menjadi kayu bakar untuk dijual ke warga sekitar. ”Ya memang, tidak banyak yang mengambil. Terkadang, kalau sampai 3 hari tidak ada yang mengambil, saya lemparkan ke penjual kayu bakar di luar sana,” katanya.
Menurutnya, permintaan arang dari konsumen bisa mencapai ratusan karung, namun karena keterbatasan bahan baku ia tidak dapat memenuhi semuanya.
Ketika disinggung semakin banyaknya pengguna gas, ia tidak terlalu merisaukan hal itu. Menurutnya lonsumen yang menggunakan arang masih banyak. Hal tersebut ia buktikan dengan masih banyaknya pemesan arang. “Yang beralih ke gas memang banyak, namun konsumen yang menggunakan arang juga masih banyak juga,” ujarnya.
Arang dijual dengan dua bentuk, ada yang bentuknya besar ada juga yang kecil. Namun biasanya banyak pelanggan rumah makan yang lebih memilih arang dengan ukuran besar. “Sekarang saya tidak perlu menjual sendiri, sudah banyak pembeli yang berdatangan,” tandasnya. (*/ida)