KREATIF: Beberapa mahasiswa yang melintas tengah melihat-lihat hasil karya personel Pure Sickness Community, kemarin. (Eko Wahyu Budiyanto/Radar Semarang)
KREATIF: Beberapa mahasiswa yang melintas tengah melihat-lihat hasil karya personel Pure Sickness Community, kemarin. (Eko Wahyu Budiyanto/Radar Semarang)
KREATIF: Beberapa mahasiswa yang melintas tengah melihat-lihat hasil karya personel Pure Sickness Community, kemarin. (Eko Wahyu Budiyanto/Radar Semarang)

SEKARAN – Wayang kulit merupakan kebudayaan bangsa Indonesia yang harus dilestarikan. Namun seringkali generasi muda tidak mengenal wayang kulit, apalagi asal muasal wayang kulit itu sendiri. Hal itulah yang mendasari komunitas Pure Sickness Community menggelar pameran lukisan bertemakan wayang beber.
Sebanyak 10 lukisan bertemakan wayang beber dipamerkan oleh komunitas tersebut di sekitaran gazebo jurusan Seni Rupa Universitas Negeri Semarang (Unnes). Pameran tersebut menyedot perhatian banyak mahasiswa yang melintas di tempat tersebut. Tak terkecuali beberapa mahasiswa asing yang mengikuti program darmasiswa.
Asyhari Rafsanjani, salah satu pelukis wayang beber mengaku prihatin dengan semakin minimnya masyarakat yang tidak mengetahui asal muasal wayang kulit ini. ”Sebenarnya wayang kulit itu kan berasal dari dari wayang beber. Namun tidak banyak yang tahu,” kata Asyhari kepada Radar Semarang, Senin (22/9).
Menurut Asyhari wayang kulit merupakan bentukan dari Sunan Kalijaga, yang dimasuki unsur-unsur agama Islam. ”Kalau wayang beber itu menggambarkan sejatinya manusia itu seperti apa,” lanjut Asyhari.
Selain sebagai kebudayaan, wayang mempunyai makna yang sangat penting karena di dalamnya menggambarkan tentang peristiwa dan terdapat nilai moral yang dilakukan oleh figur-figur di dalam wayang. ”Kita juga ingin menampilkan kembali wayang beber dan cerita rakyat Damarwulan serta melestarikannya melalui karya seni lukis,” lanjutnya.
Media yang digunakan dalam lukisan adalah campuran antara cat akrilik dan spidol permanen pada kanvas. Cat akrilik digunakan untuk pengerjaan figur-figur, properti maupun back ground lukisan secara datar, spidol permanen digunakan untuk pengerjaan garis luar, gelap terang sampai dengan pengerjaan detail lukisan.
Karya seni lukis sendiri yang dipamerkan berjumlah sepuluh buah, dengan ukuran 85 x 60 cm sampai dengan 120 x 85 cm, lukisan tersebut sebagai penggambaran cerita rakyat Damarwulan dengan figur-figur Wayang Beber sebagai inspirasi. ”Semua lukisan ini mengungkapkan tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam cerita rakyat Damarwulan,” kata Asyhari. Ia berharap pameran ini dapat memberikan inspirasi dan motivasi kepada mahasiswa maupun seniman yang lain untuk menciptakan karya seni lukis yang bermanfaat bagi orang banyak. (ewb/zal/ce1)