Tak Ingin Diklaim Negara Lain

122
Eni Kustini (JOHN WAHID/RADAR SEMARANG)
Eni Kustini (JOHN WAHID/RADAR SEMARANG)
Eni Kustini (JOHN WAHID/RADAR SEMARANG)

Menjadi sinden bagi mahasiswi Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta Eni Kustini, 21, sudah menjadi cita-citanya. Ia ingin mempertahankan kesenian Indonesia agar tidak diklaim negara lain.

”Apalagi banyak anak muda yang tidak menyukai kesenian sinden ini, tetapi lebih memilih kesenian lain yang diadopsi dari negara lain,” ungkap Eni.

Ia mengaku prihatin dengan rendahnya minat generasi muda untuk menyenangi kesenian tradisional. Mereka lebih memilih budaya luar yang terkesan modern, glamor, praktis dan ekonomis. ”Sinden serta tembang Jawa yang tampilannya jauh dari sifat-sifat itu semakin ditinggalkan oleh generasi muda,” katanya. Di sisi lain, banyak warga asing yang tertarik mempelajari kesenian tradisional Indonesia.

Krisis generasi penerus sinden sudah terlihat. Kegiatan ini lebih banyak dikerjakan orang-orang tua. Padahal kaderisasi sinden bukan pekerjaan yang mudah. Begitu pula kesenian tradisional lain seperti karawitan, wayang, tari, ketoprak, sintren, kuda lumping yang hanya dilirik sebagian kecil generasi muda. ”Padahal itu adalah kesenian milik bangsa Indonesia. Kalau bukan kita yang melestarikan terus siapa lagi,” ungkap Eni yang sudah mulai belajar menjadi sinden sejak SMA. (hid/ton/ce1)