PILIH LANGSUNG: Salah seorang siswa SMA Kesatrian 2 akan memasukkan surat suara yang sudah dicoblos ke kotak suara. (Eko Wahyu Budiyanto/Radar Semarang)
PILIH LANGSUNG: Salah seorang siswa SMA Kesatrian 2 akan memasukkan surat suara yang sudah dicoblos ke kotak suara. (Eko Wahyu Budiyanto/Radar Semarang)
PILIH LANGSUNG: Salah seorang siswa SMA Kesatrian 2 akan memasukkan surat suara yang sudah dicoblos ke kotak suara. (Eko Wahyu Budiyanto/Radar Semarang)

Proses demokrasi pemilihan umum (pemilu) presiden, kepala daerah, dan wakil rakyat rupanya menjadi inspirasi para siswa SMA Kesatrian 2 Semarang untuk menentukan ketua OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah). Seperti apa?

Eko Wahyu Budiyanto, Tlogosari

ADA tiga kotak surat suara berwarna merah, hijau, biru. Masing-masing kotak dikategorikan sesuai tingkatan kelas, yakni kelas X, XI, dan XII. Tak hanya itu, prosesi pemilihan juga dijaga oleh sejumlah petugas, ada yang berperan sebagai saksi, keamanan, hingga penjaga kertas suara.
Suasana yang terjadi di SMA Kesatrian 2 Semarang memang mirip pada pemilu legislatif atau pemilu presiden yang berlangsung beberapa bulan lalu. Kepala SMA Kesatrian 2 Semarang, Supriyono mengatakan, penyelenggaraan pemilihan ketua OSIS ini sengaja menggunakan konsep pilpres dan pileg, karena ingin menanamkan pendidikan karakter kepada siswa dan mengenalkan demokrasi yang baik.
”Pemilihan ketua OSIS ini merupakan sebuah miniatur pemilu legislatif dan presiden. Tata cara dan aturan dalam pemilihan ketua OSIS ini sama seperti pemilu yang sebenarnya, sehingga diharapkan mampu menjadi wahana belajar bagi seluruh siswa dalam menggunakan hak suaranya,” kata Supriyono, Kamis (18/9).
Panitia pemilihan juga menyediakan atribut-atribut layaknya pemilihan legislatif sesungguhnya. Pada prosesi pencoblosan, masing-masing siswa berjalan satu per satu menuju bilik suara yang disediakan oleh panitia pemungutan suara. Pemilihan ketua OSIS ini diikuti oleh 3 calon ketua. Ketiga kandidat tersebut adalah perwakilan dari kelas XI. Ketiga calon ketua OSIS tersebut juga telah melalui beberapa tahapan sebelum pemilihan ini.
Mereka mendaftarkan diri sebagai bakal calon ketua OSIS, kemudian diverifikasi sehingga dinyatakan lolos menjadi calon ketua OSIS. Selanjutnya, para calon tersebut juga melakukan kampanye ke kelas-kelas dengan didampingi ketua KPU sekolah dan pembina OSIS.
Ketiga calon juga memasang pamflet berisi visi, misi, dan program kerja andalan masing-masing kandidat. Kemudian, kegiatan dari ketiga calon adalah kampanye masal di depan seluruh siswa SMA Kesatrian 2 Semarang.
Pembina OSIS SMA Kesatrian, Mai Yusro menjelaskan, pemilihan tersebut juga dapat menjadi bekal bagi para siswa, setidaknya dapat memperoleh pengetahuan bagaimana pelaksanaan pemilu dengan benar.
”Surat suara yang dapat dikatakan sah sendiri juga ada aturannya. Tidak sembarangan coblos. Ada juga surat suara yang dinyatakan tidak sah. Kami juga menyiapkan saksi dan yang lebih unik, tanpa pengetahuan kami, beberapa calon juga memiliki tim sukses sendiri di mana mereka mencoba meyakinkan pemilih dengan visi dan misi calon ketua,” kata Mai. (*/zal/ce1)