Kenalkan Guru Bangsa pada Generasi Muda

132
BANGUNAN KUNO: Garin Nugroho (kanan) mengarahkan kru dan pemain film ”Guru Bangsa: Tjokroamintono” yang sedang syuting di Kota Semarang. (NUR CHAMIM/RADAR SEMARANG)
BANGUNAN KUNO: Garin Nugroho (kanan) mengarahkan kru dan pemain film ”Guru Bangsa: Tjokroamintono” yang sedang syuting di Kota Semarang. (NUR CHAMIM/RADAR SEMARANG)
BANGUNAN KUNO: Garin Nugroho (kanan) mengarahkan kru dan pemain film ”Guru Bangsa: Tjokroamintono” yang sedang syuting di Kota Semarang. (NUR CHAMIM/RADAR SEMARANG)
SEMARANG — Semarang masih menjadi salah satu lokasi favorit untuk syuting film yang mengambil setting masa lalu. Kali ini, sutradara kenamaan Garin Nugroho menghadirkan kisah tokoh Haji Oemar Said Tjokroaminoto dalam film ber-setting di era 1890-1920. Sejumlah artis ibu kota seperti Reza Rahardian, Putri Ayudya dan Chelsea Islan diboyong untuk pengambilan gambar di Semarang, Rabu (17/9).

Film bergenre drama karakter berjudul ”Guru Bangsa: Tjokroaminoto” hasil kerja sama dari Yayasan HOS Tjokroaminoto dengan rumah produksi Pic[k] Lock Films ini berusaha menghidupkan kembali suasana Kota Lama Surabaya lengkap dengan trem dan mobil-mobil di masa itu.

Asisten Produser Film Dian Lasvita mengatakan, film yang didukung Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia ini bertujuan untuk kembali memperkenalkan sosok pejuang yakni HOS Tjokroaminto kepada generasi muda. ”Saat ini banyak generasi muda yang kurang mengenal beliau yang menjadi pahlawan dan juga guru para pendiri bangsa yang ada di Indonesia, sebut saja Sukarno, Agus Salim, dan masih banyak lagi,” katanya.

Proses pengambilan gambar film dilakukan pada September ini mengambil setting beberapa kota di Jawa Tengah dan Jogjakarta. ”Beberapa hari lalu kita syuting di Ambarawa, Semarang adalah kota kedua dan Jogjakarta sebagai kota terakhir,” tutur Dian.

Sebagian besar syuting akan dilakukan di Jogjakarta. Bahkan kru film telah siap mengubah suasana Jogja mirip di tahun 1900-an. ”Sebagai pendukung syuting, kami membuat trem sendiri selama tiga bulan dan mobil jenis Ford tahun 1920-an,” tambahnya.

Film yang diproduseri Sabrang Mowo Damar Panuluh (Noe Letto), Christine Hakim, Didi Petet, dan Dewi Umaya ini diharapkan bisa membangkitkan kembali rasa kebanggaan kaum muda dalam berbangsa dan bernegara sekaligus meningkatkan rasa nasionalisme. ”Di sini Mas Garin mencoba meng-combine aktor atau pemain muda dan pemain kawakan. Pemain muda seperti Reza Rahardian sengaja diajak agar pesan dari film ini bisa sampai ke generasi muda,” timpalnya.

Garin menjelaskan, pascapemilu telah menciptakan rasa antusias warga terhadap isu-isu kebangsaan. ”Film ini nantinya diharapkan bisa menjadi jawaban di masyarakat atas asal-usul pergerakan bangsa. Selain itu bisa menjadi pembelajaran kepada generasi muda untuk meningkatkan kesadaran akan nasionalisme serta meningkatkan kesadaran jika Indonesia adalah negara yang multikultural,” ucap alumni SMA Kolese Loyola Semarang ini.

Pelindung Yayasan Keluarga Besar HOS Tjokroaminoto MS Hidayat menambahkan, film ini sengaja dibuat untuk kembali mengingatkan generasi muda terhadap sosok salah seorang guru bangsa. ”Setelah peluncuran film, nantinya juga akan dilengkapi dengan peluncuran buku tentang beliau (HOS Tjokroaminto, Red)  oleh Yayasan HOS Tjokroaminoto pada akhir tahun ini,” jelasnya. (den/ton/ce1)