Dibangun selama 20 Hari, Habiskan Rp 15.370.000

718
JUARA II: Gapura Jalan Jangli Perbalan RW 06 saat dibangun warga (atas). Gapura setelah jadi. (ADENNYAR WYCAKSONO/ARIF RIYANTO/RADAR SEMARANG)
JUARA II: Gapura Jalan Jangli Perbalan RW 06 setelah jadi. (ADENNYAR WYCAKSONO/ARIF RIYANTO/RADAR SEMARANG)
JUARA II: Gapura Jalan Jangli Perbalan RW 06 setelah jadi. (ADENNYAR WYCAKSONO/ARIF RIYANTO/RADAR SEMARANG)

Warga Jalan Jangli Perbalan RW 06 Kelurahan Ngesrep, Kota Semarang sudah beberapa kali menjuarai lomba yang digelar Pemkot Semarang. Namun lomba gapura kampung kali ini amat istimewa. Sebab, gapura tersebut dibangun hanya modal nekat.

ABDUL MUGHIS, Ngesrep

BANYAK kisah di balik perjuangan warga Jalan Jangli Perbalan RW 06 Kelurahan Ngesrep membangun gapura yang berada di mulut Jalan Jangli Perbalan Timur I tersebut. Rupanya saat membangun gapura tersebut, warga hanya modal nekat dan tak butuh berpikir panjang. Namun berkat ketulusan dan semangat warga, akhirnya gapura itu pun terwujud.
”Wis pokoke rak usah mikir duit. Sing penting iso melu lomba. (Sudah, pokoknya tidak usah memikirkan uang, yang penting bisa ikut lomba),” kata Plt Ketua RW 06, Novadji kepada Radar Semarang, Selasa (26/8).

Saat akan membangun gapura itu, kata Novadji, tidak ada warga yang menolak. Pada intinya semua warga mendukung untuk mengikuti lomba gapura. Setelah terbentuk tim yang terdiri atas lima orang panitia, terkumpullah uang modal Rp 9.955.000.
”Uang itu murni swadaya warga yang dipergunakan untuk biaya rehab dan mempercantik gapura kampung. Padahal, totalnya habis Rp 15.370.000,” ungkap Novadji.

Dikatakan Novadji, persiapan mengikuti lomba termasuk mepet, yakni hanya 20 hari. ”Setelah terkumpul uang, kami segera belanja segala keperluan material, mulai semen, cat dan bahan-bahan lain. Agar cepet selesai ya dilembur siang malam secara bergiliran,” katanya.

Iuran itu tidak diwajibkan. Bagi warga yang kurang mampu boleh tidak ikut membayar iuran. ”Yang terpenting mendukung. Jika bisanya menyumbang tenaga ya tenaga saja. Terpenting itu kompak, tidak usah mikir duit. Niatnya kami membangun kampung, dan tetap menjaga persatuan. Jadi, menang atau kalah ya tidak penting,” ujarnya.

Semua ide desain gapura dipasrahkan kepada warga yang bersedia ikut urun rembuk. Seperti halnya di gapura tersebut terdapat logo Garuda Pancasila. ”Itu yang bikin warga sendiri. Namanya Pak Supardi. Bahannya dari gipsum sama semen,” katanya.

Setelah hampir 20 hari warga ber-holobis kuntul baris, gapura yang diimpikan itu pun jadi. Namun saat itu warga harus berutang biaya material hingga Rp 5.373.000. Pada Senin (18/8) lalu, gapura minimalis yang dibalut batu alam warna hitam dan putih itu dinilai oleh tim penilai kelompok III, yang terdiri atas Hari Widiatmodjo (Pemkot Semarang), Arif Riyanto (Radar Semarang) dan Cholifah (Arsitek).

Selang tiga hari, Kamis (21/8), tim penilai dengan kekuatan penuh dari tiga kelompok, kembali datang diam-diam untuk melihat gapura tersebut. Namun rupanya kedatangan tim penilai diketahui oleh Suwarjono, salah satu ketua RT di wilayah RW 06 yang kebetulan melintas di lokasi gapura. Tak disangka, ternyata kreativitas warga itu membawa hasil yang mengejutkan. Novadji tak menyangka jika tim juri memilih gapura RW 06 itu sebagai juara II.

”Begitu kami dapat juara, semua heran. Tapi, kami senang sekali karena semua warga ternyata peduli. Padahal tanpa mendapat juara pun ikhlas dengan senang hati,” ujarnya.

Piala Wali Kota Semarang dan uang pembinaan Rp 10 juta pun berhasil diboyong. ”Uang hadiah tersebut rencananya untuk mengembalikan pinjaman Rp 5.373.000. Sisanya untuk keperluan kegiatan, seperti mengirim tim sepak bola, kegiatan PKK dan menggelar tasyakuran bersama warga,” kata Novadji.

Dia berpesan kepada semua warga Jangli Perbalan RW 06 agar tetap menjaga semangat nasionalisme, walaupun gapura itu berada di lingkungan RT 07. Tetapi hal itulah budaya membangun negara yang mempunyai nilai persatuan hebat. (*/aro/ce1)