TEMBALANG – Temuan-temuan teknologi tidak hanya sebatas pada inovasi produk baru dan high tech, tetapi bagaimana teknologi tersebut bisa menjawab kebutuhan masyarakat saat ini. Misalnya kebijakan pengelolaan pangan dan energi di Jawa Tengah yang ditujukan pada upaya untuk mencapai kedaulatan.
Hal tersebut dikatakan oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, dalam seminar Nasional Pengembangan Teknologi Proses yang Efisien dalam Pengolahan Sumber Daya Alam untuk Mewujudkan Ketahanan Energi dan Pangan, di Universitas Diponegoro (Undip), Rabu (20/8). ”Daulat pangan dan daulat energi itu artinya kita tidak hanya mengenal konsep ketahanan tetapi lebih dari upaya memberdayakan potensi dan sumber daya lokal untuk memenuhi kebutuhan pangan dan energi,” kata Ganjar.
Dikatakan daulat energi difokuskan pada upaya pembuatan sumber-sumber energi baru yang terbarukan seperti pemanfaatan biogas, biofuel, PLTMH, panas bumi, energi angin dan ombak serta panas matahari. Berbagai daerah sudah menerapkan hal tersebut. ”Oleh sebab itu, kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan harus bisa memberikan solusi terhadap timbulnya krisis pangan dan energi,” ujar Ganjar.
Adanya upaya-upaya untuk menemukan berbagai hal baru, lanjut Ganjar, merupakan langkah strategis yang berguna dalam rangka menghadapi berbagai permasalahan tersebut. Tak terkecuali pengembangan di bidang kimia.
Ganjar berharap kalangan perguruan tinggi dengan dukungan sektor dunia usaha dan lembaga teknis pemerintah harus dapat membuat proyek inovasi di bidang kimia untuk kepentingan masyarakat.
”Maka perguruan tinggi harus bisa menggandeng masyarakat berdampingan dan bahkan membina masyarakat untuk bersama-sama menerapkan hasil penelitian dan bahkan membina masyarakat untuk bersama-sama menerapkan hasil penelitian dan bahkan melibatkan masyarakat dalam penelitian,” urainya.
Sementara itu Rektor Undip, Prof Sudharto P. Hadi mengatakan, mengenai masalah ketahanan pangan dan energi ada persolan dalam pengambilan kebijakan yang kurang tepat. ”Sehingga kita bergantung dengan negara lain mengenai energi ini sebanyak 95 persen. Kita masih bergantung dari energi fosil yang cepat atau lambat akan habis. Mau tidak mau kita harus mulai berpikir untuk menggunakan energi baru dan terbarukan untuk mengahadapi krisis energi di masa yang akan datang,” tuturnya. (ewb/zal/ce1)