Demam Berdarah Serang Sinar Waluyo

100

KEDUNGMUNDU – Sebanyak 20 warga Perumahan Sinar Waluyo RT 10 RW 01, Kelurahan Kedungmundu, Kecamatan Tembalang, terindikasi terserang penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Maraknya penyakit DBD di wilayah tersebut menarik perhatian Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi. Setelah mendapat laporan dari salah satu warga via SMS, pejabat yang akrab disapa Hendi itu langsung mendatangi lokasi, Rabu (20/8) kemarin.
Wali kota mengecek kondisi warga bersama Kepala Dinas Kesehatan (DKK) Widoyono, Camat Tembalang dan Lurah Kedungmundu. Setelah pengecekan, yang positif mengidap DBD sejumlah 4 warga, sedangkan sisanya masih dalam proses pemeriksaan di rumah sakit setempat.
”Syukur Alhamdulilah ternyata setelah kami cek, warga yang positif hanya berjumlah 4 orang,” ujar wali kota.
Meski begitu, wali kota meminta warga setempat untuk tidak menyepelekan kejadian tersebut. Warga diimbau untuk tetap melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) di lingkungan masing-masing.
”Kejadian ini merupakan warning awal pertama untuk melakukan 3M plus, yakni mengubur, menguras dan menutup ditambah dengan memberantas sarang nyamuk hingga mereka tidak bertelur,” tandasnya.
Mengenai fogging yang juga dikenal sebagai salah satu cara untuk mencegah DBD, Hendi berpendapat cara itu jauh lebih tidak efektif. ”Fogging tidak pernah direkomendasikan. Saya lebih pro PSN bukan fogging. Karena yang lebih baik adalah ’bermain’ dengan jentik, bukan nyamuknya,” terangnya.
Wali kota menambahkan, fogging hanya bisa membunuh nyamuk dewasa, bukan jentiknya. Padahal, menurut Hendi, apabila jentik tidak dibunuh, maka itu sama saja ’menyediakan’ kesempatan untuk nyamuk generasi berikutnya tumbuh sehingga masalah DBD tidak akan bisa selesai.
”Fogging boleh dilakukan, tapi hanya jika ada kasus saja di daerah itu dengan radius 200 meter, dan bisa dilakukan dengan jeda waktu tertentu. Karena fogging juga bisa mencemari lingkungan,” katanya.
Kepala DKK Semarang Widoyono menyatakan, wilayah Sinar Waluyo memiliki angka jentik nyamuk cukup tinggi, yakni mencapai 25 persen. Padahal angka aman paling tinggi hanya 5 persen.
”Memang setelah kita lihat angka jentiknya di kawasan itu sangat tinggi, di luar batas standar angka maksimal lima persen,” ujarnya kepada Radar Semarang.
Sebagai bentuk antisipasi, sore hari itu juga langsung dilakukan fogging. Pihaknya menekankan kepada warga untuk melakukan PSN secara rutin. Karena cara tersebut dianggap paling efektif dibanding pengasapan.
”Kemarin yang dilaporkan memang 20 warga, tapi setelah dicek hanya 4 orang yang positif (DBD), beberapa warga lainnya menderita tipus, memang gejalanya (tipus) hampir sama dengan DBD,” terangnya.
Disinggung mengenai angka kasus DBD di Kota Semarang hingga Agustus ini, Widoyono mengklaim mengalami penurunan jika dibanding tahun lalu. Dia menyebut, hingga minggu ketiga Agustus, jumlah penderita DBD ada 22 kasus.
”Jika dibanding tahun lalu dengan periode yang sama, yakni bulan Agustus, jumlahnya mencapai 109 kasus. Jadi, sekarang ini mengalami penurunan yang cukup drastis, walaupun datanya masih minggu ketiga yang kita terima Senin kemarin. Karena untuk DBD ini kita menerima laporan secara mingguan,” jelas Widoyono sembari menambahkan angka global selama 2014, mulai Januari hingga Agustus, jumlah kasus DBD mencapai 1.071 kasus. (zal/aro/ce1)