TEMANGGUNG—Salah satu tradisi yang digelar masyarakat setiap menjelang peringatan Hari Kemerdekaan adalah tirakatan. Kegiatan ini biasanya diisi renungan dan doa yang ditujukan pada para pahlawan bangsa.

“Ini tentang bagaimana kita menghormati para pahlawan yang telah berjuang memerdekakan negeri ini. Kami meniru dengan tirakat tidak tidur semalam sambil berdoa untuk kebaikan dan kemajuan bangsa,” kata Ketua RT 03 RW 10, Desa Candimulyo, Kecamatan Kedu, Yulianto Susilo, d isela peringatan tirakatan di kampungnya.

Ia menjelaskan, rangkaian kegiatan tirakat pitulasan dimulai dari doa bersama seluruh warga. “Di sini ada banyak agama, jadi kami doa bersama untuk kebaikan negeri berdasarkan agamanya masing-masing,” paparnya.

Usai kegiatan doa bersama, selanjutnya makan bersama sebagai salah satu hal yang melekat pada syukuran. Makanan disajikan secara swadaya warga. Ada yang menyajikan makanan mentah untuk dibakar bersama, ada pula yang sudah siap santap.

Warga lainnya, Hernowo menambahkan, sembari menemani makan malam, digelar sajian musik live lagu-lagu kebangsaan. Lagu-lagu ini dinyanyikan untuk memperkuat nasionalisme warganya. Selain lagu kebangsaan, lagu-lagu daerah dan lagu populer juga mewarnai hingga ujung malam. “Kami buat tenda dan berkumpul bersama semua warga,” papar pria yang Kepala SMA 3 Temanggung ini.

Ia menambahkan, dalam tradisi ini, warga begadang semalaman hingga matahari mulai terbit. Untuk menghindari rasa ngantuk, sebagian warga bermain catur, bernyanyi-nyanyi serta permainan lainnya yang dapat menghindarkan diri dari rasa kantuk. Untuk kaum hawa dan anak-anak, mereka hanya sampai pertengahan malam. Saat pergantian hari tersebut, satu persatu mereka undur diri dari panggung untuk beristirahat. (zah/ton)