BANYUMANIK – Sebuah pa­brik minuman keras oplosan di Desa Cilempung, Kecamatan Cimangu, Cilacap digerebek aparat Ditreskrimsus Polda Jateng. Dalam penggerebekan itu, diamankan seorang tersangka pemilik pabrik berinisial Dl, 45, warga Cilacap. Pabrik ini diketahui sudah beroperasi sejak 2013 silam. Selain mengamankan tersangka, petugas juga menyita barang bukti miras oplosan yang menggunakan merek terkenal. Di antaranya, 2.314 botol miras oplosan merek Mc Donald, Wisky dan Vodka. Juga 24 drum alkhohol,
alat pres pembuat label, cukai bekas, serta 420 botol kosong.
Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Jateng, Kombes Pol Djoko Purbohadijoyo mengatakan, pabrik miras ilegal ini sudah berlangsung sejak 2013. Pabrik ini terbongkar setelah petugas melakukan penyelidikan, menyikapi beredarnya miras oplosan di Jateng. ”Dari situ, langsung kami gerebek dan kedapatan benar ada produksi miras oplosan,” katanya.
Pemilik pabrik meracik miras dengan cara sendiri. Dengan mencampurkan bahan baku berupa serbuk putih dengan 50 liter alkhohol 80 persen. Kemudian dicampur air putih dan gula putih. Berbagai bahan itu dicampur langsung dan diolah di dalam pabrik tersebut.
”Setelah semua selesai, baru dimasukkan ke dalam botol bekas. Pemilik juga menyegel dan mencetak label sendiri, jadi seolah-olah barang asli,” jelasnya.
Untuk meyakinkan pembeli, miras dibeli cukai. Cukai asli, namun bekas. Mereknya seperti miras asli, yakni Wisky dan Vodka. Barang haram itu dipasarkan di sejumlah Kota Jateng. Mulai dari Cilacap, Banyumas, Tasikmalaya, Ciamis, dan sejumlah kota lain. Harga yang ditawarkan cukup murah, mulai Rp 15 ribu sampai Rp 38 ribu untuk setiap botol. Harga itu jauh dibandingkan dengan aslinya yang berkisar Rp 80 ribu per botol. ”Omzet yang didapatkan dalam satu bulan tidak kurang Rp 30 juta. Setahun mereka bisa mengantongi Rp 210 juta,” katanya.
Kabid Humas Polda Jateng Kombes Pol Alloysius Liliek Darmanto mengatakan, miras oplosan banyak beredar terutama mendekati Lebaran.
Pihaknya menegaskan, akan menindak tegas peredaran miras di Jateng. ”Dari pengakuan tersangka, pabrik ini sudah beroperasi sejak 2013 lalu. Ini cukup besar,” tegasnya.
Tersangka akan dijerat pasal 142 jo pasal 91 UU RI No 18 tahun 2012 tentang pangan dengan ancaman hukuman maksimal dua tahun dan denda Rp 4 miliar. Selain itu, akan dijerat pasal 62 ayat 1 jo pasal 8 ayat 1 UU RI No 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen dengan ancaman 5 tahun penjara dan denda Rp 2 miliar.
”Masyarakat harus tetap waspada dan jauhi miras. Ini sangat berbahaya untuk kesehatan,” pesannya. (fth/aro/ce1)