Diserang Hama Daun Keriting
 
KENDAL—Petani tembakau di Kendal terancam gagal panen. Pasalnya, tanaman tembakau yang ditanam pada awal musim kemarau lalu, kini diserang hama daun keriting.
Jumali, 52, salah seorang petani di Gemuh mengatakan bahwa hama daun keriting tersebut bisa menjadikan para petani tembakau terancam kerugian hingga ratusan juta rupiah. Sebab, hama tersebut akan mengakibatkan tanaman sulit tumbuh besar alias kerdil. Selain itu, bentuk daunnya juga tidak bisa lebar seperti daun tembakau pada umumnya, karena daun tidak bisa tumbuh bebas.
“Praktis, jika tanaman kerdil dan daunnya juga kecil, maka kuantitas tembakau yang dihasilkan akan rendah. Kualitas tembakau juga tidak sebagus jika tembakau bisa tumbuh normal,” tandasnya.
Lebih parahnya lagi, imbuhnya, hama ini mengakibatkan tanaman tembakau layu dan mati. Hama ini sudah menyerang tanaman dua pekan lalu. “Meski baru dua pekan, namun tanaman tembakau sekitar satu hektare mayoritas terkena hama daun keriting,” paparnya.
Dia menduga, hama yang menyerang kali pertama pada bagian daun tanaman tembakau ini diakibatkan perubahan cuaca yang terjadi akhir pekan ini. Sebab, penyebabnya jamur yang timbul karena kelembapan udara yang tinggi.
”Beberapa pekan terakhir ini, cuaca tidak menentu. Sehingga kondisi suhu yang tadinya panas dan mendukung pertumbuhan tembakau, justru tiba-tiba berubah jadi dingin. Perubahan suhu ini mengakibatkan tembakau jadi lemah dan mudah terserang hama,” jelasnya.
Jumali menambahkan, untuk menanam tembakau di lahan seluas satu hektare, membutuhkan sedikitnya modal sekitar Rp 10 juta. Kondisi tersebut, jika normal, maka satu kali panen bisa diperoleh hasil jual sebesar Rp 25 juta dengan harga Rp 15 ribu per kilogram. “Daun tembakau bisa dipanen berkali-kali. Jadi, jika tidak terserang hama, maka petani bisa untung banyak,” paparnya.
Hal senada dikatakan Jumarno. Ia menambahkan, jika hama daun keriting juga menyerang petani tembakau di Kecamatan Ringinarum dan Cepiring. “Hampir menyeluruh di Kabupaten Kendal, karena memang cuacanya tidak menentu,” imbuhnya.
Hingga saat ini, para petani belum menemukan obat penangkal penyakit bagi daun keriting tersebut. “Belum ada yang tahu obatnya apa, di tempat jual bahan-bahan pertanian juga tidak ada. Yang ada, hanya obat penyubur tanaman dan obat daun agar hijau,” katanya. (bud/ida)