MAGELANG – Seorang pengamen mengaku tak kapok terjaring razia pengemis, gelandangan, dan orang telantar (PGOT) yang dilakukan oleh tim gabungan. Tim yang terdiri atas Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Sosial (Disnakertransos) Kota Magelang bersama Polri, Satpol PP, Dinas Kesehatan Kota Magelang (DKK), dan Kesbangpolinmas ini melakukan razia kemarin (4/7).
Pengamen bernama Dian Kurniawan yang merupakan warga Trunan RT 1/18, Kelurahan Tidar Selatan ini mengaku enggan dibina supaya mendapatkan keahlian khusus dan memiliki pekerjaan yang lebih layak.
“Saya tidak mau dibina di kelurahan pak, saya sudah suka dengan kegiatan ngamen saya setiap hari,” ujarnya kepada tim Disnakertransos yang memberikan solusi pada pria kelahiran 1996 itu untuk di pulangkan ke kelurahan dan mengikuti binaan.
Walaupun sudah terjaring dua kali, namun ia merasa kapok. “Saya tetap ingin ngamen pak,” katanya. Sementara itu, Suginah, 49, warga Kampung Paten Jurang, Kelurahan Rejowinangun Utara, Kecamtan Magelang Selatan ini mengaku baru pertama kali terjaring razia PGOT. Biasanya dia bekerja sebagai pemulung.
“Ini saya lagi apes. Wong saya itu bukan pengemis kok ikut terjaring,” gerutunya.
Kepada Radar Kedu Suginah mengaku, dia hanya duduk-duduk saja di Kantor Pos Magelang menemani temannya yang diajak mencari rongsok tidak mau dan memilih mengemis.
Hal sama dikatakan Nuriyah, 46, warga Dusun Jengkol Losari, Kecamatan Pakis ini mengaku baru sekali mencoba untuk mengemis. Dia mengaku hanya mempunyai uang Rp 5.000 untuk naik angkot dan ke Kantor Pos Magelang. “Niat saya pengen dapat uang, ini malah terjaring dan saya belum dapat uang sepeserpun,” akunya.
Perempuan yang biasanya bekerja sebagai buruh ini mengaku seandainya mendapat uang, akan digunakan untuk membeli beras demi keperluan rumah tangganya. “Saya malu dan kapok. Saya akan kembali bekerja sebagai buruh saja,” imbuhnya.
Kabid Sosial Disnaktertransos Kota Magelang Iradatin Susilosiwi menuturkan, kegiatan yang rutin dilakukan setiap satu bulan sekali ini untuk memberikan efek jera bagi para PGOT. Namun tak sedikit pula yang tetap nekat kembali turun ke jalan.
“Alasan mereka karena penghasilan mereka cukup banyak. Memang iya, karena saat sepi saja pengemis bisa mendapat uang Rp 50 ribu/hari. Bayangkan saja jika saat ramai mereka dapat berapa,” katanya kepada Radar Kedu.
Ira menambahkan, razia dilakukan di beberapa titik keramaian. Seperti Pecinan, Kantor Pos, sekitar masjid Kauman, terminal, Soka dan tempat-tempat yang ramai lainnya.
“Biasanya PGOT itu mencari momen yang bagus. Misalnya saat tanggal muda, orang lagi ambil gaji, mereka banyak ditemui di Kantor Pos. Sedangkan di Pecinan biasanya saat hari Minggu, dan di masjid biasanya Jumat,” paparnya.
Selain razia, tim VCT RSUD Tidar melakukan tes pengambilan darah untuk mengetahui adanya penyakit menular. “Bulan lalu ada 13 PGOT yang terjaring, sekarang ada 14,” imbuhnya.
Ia mengatakan, tak sedikit dari mereka tidak memiliki kartu tanda penduduk (KTP). Sehingga pihaknya kesulitan mendata PGOT yang berusia lanjut dan kurang pendengarannya.
“Untuk yang punya KTP ataupun mampu menyebutkan alamatnya, akan kami kembalikan ke kelurahan dan akan dibina. Sedangkan yang tak bisa menyebutkan alamatnya, kami sarankan untuk tinggal di panti,” kata Ira saat menjelaskan teknis penganganan PGOT pascarazia. (mg4/lis)