Visi Kemanusiaan Puasa Ramadan

182

H. Muh. Arif Royyani, Lc., M.S.I.
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Falak IAIN Walisongo

PUASA telah diakui oleh banyak kaum beragama sebagai penegas perlawanan terhadap ambisi penguasaan manusia atas manusia yang lain berupa diskriminasi, penindasan, ketidakadilan dan semacamnya. Dalam Islam, terdapat puasa khusus yang tertulis dalam al-Qur’an sebagai kewajiban sebulan penuh sekali dalam setahun yakni puasa Ramadhan.
Seruan puasa Ramadhan secara jelas disebutkan dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 183: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. Perintah puasa Ramadhan ini ditujukan tidak kepada semua orang, melainkan hanya orang-orang yang beriman. Mengapa demikian, karena puasa sangat terkait erat dengan hal-hal yang abstrak, psikis atau mental.
Hal ini dapat dipahami bahwa Ramadhan ingin membakar atau membongkar penafian terhadap perkara fitrah yang selama sebelas bulan terendap oleh hawa nafsu duniawi yang secara tidak sadar memengaruhi sikap dan mental manusia.
Fitrah manusia yang teragung itu bernama kemaslahatan. Dalam artian yang luas, kemaslahatan dapat dimaknai sebagai nilai kebenaran dalam bertindak, berucap dan berfikir. Boleh jadi, tindakan kita benar tetapi cara berfikirnya yang picik. Atau, berfikirnya yang benar tetapi cara mengerjakannya melukai pihak lain.
Disinilah peran sentral puasa Ramadhan dalam mensterilkan segala ucap, tindak dan fikir kita selama sebelas bulan, lalu diburning sedemikian rupa agar integreted antara satu sama lain.
Dari puasa sebulan penuh dalam bulan Ramadan inilah diharapkan mampu menyatukan antara ekspektasi hidup dengan eksekusi kesehariannya yang mewujud dalam tindakan, ucapan serta fikiran-fikiran yang tidak melenceng dari jalur kebenaran yang telah Allah swt tegaskan dalam kitab suciNya.
Apabila pemahaman ini kita pegang bersama, maka nilai-nilai kemanusiaan dalam beberapa ritual puasa Ramadan dapat terlaksana. Niat misalnya, merupakan simbol keabsahan dan kekuatan utama dalam melakukan sesuatu hal. Niat yang kuat akan memancarkan kekuatan dalam pelaksanaannya. Apabila niatnya belum tuntas atau setengah-setengah, niscaya pelaksanaannya pun tidak maksimal.
Niatkan bahwa puasa Ramadan ini adalah penguatan atau penegas komitmen kemanusiaan untuk bersama berbuat sesuatu yang sistemik, terprogram dan berkelanjutan dalam kerja-kerja sosial tanpa pilih pamrih dan tanpa pilah warna. Inilah ketulusuan niat yang sedari awal harus patrikan ke dalam sanubari kita.
Selanjutnya, setelah niat tertanam kuat di hati, barulah langkah berikutnya yaitu aksi. Dalam hal ini, aksi berarti menahan segala macam keinginan diri dari kesenangan atau nafsu yang dapat membuat ingatan kita terjauh dari kepekaan sosial. Maka, menahan haus dan lapar adalah simbol penegasan menghindari hal-hal yang negatif dan buruk,
Tahap berikutnya adalah melakukan refleksi. Salat berjama’ah berfungsi sebagai refleksi atas aksi diri dan kemanusiaan. Refleksi ini penting sebagai media evaluasi atas kinerja-kinerja yang telah kita lakukan masing-masing sesuai kapasitas dan bidang yang kita kuasai. Inilah pentingnya shalat berjama’ah, di samping bernilai di sisi Allah swt, juga bermakna pada sisi kerja-kerja kemanusiaan di bumi.
Sisi lain selain yang disebut di atas adalah kajian teks suci atau lazim dengan sebutan tadarrus al-Qur’an. Kajian teks suci ini penting untuk meneguhkan visi misi pribadi muslim, yakni sebagai garda depan dalam hal menegakkan keadilan, kesetraan dan memberantas diskriminasi dalam bentuk apapun. Di samping, kajian teks suci ini sebagai resource knowledge baik social ataupun nature. Walhasil, sesungguhnya puasa Ramadan menjadi penegas untuk selalu menegakkan tonggak atau pilar-pilar kemanusiaan seperti keadilan, kesetaraan dan kedamaian di muka bumi. (*)