BARUSARI – Momentum Ramadan dimanfaatkan dengan baik oleh Prof Dr Supriadi Rustad MSi. Salah seorang guru besar di Unnes yang juga satu dari tiga calon Rektor Unnes tersebut telah melayangkan surat pencabutan laporan ke penyidik Polrestabes Semarang, Kamis (3/7), sekitar pukul 10.00.
Laporan yang dimaksud adalah terkait dugaan pencemaran nama baik dan atau pengaduan fitnah sesuai laporan polisi dengan Nomor: LP/B/1040/VI/2014/Jateng/Restabes tertanggal 28 Juni 2014. Terlapor dalam pengaduan tersebut adalah Rektor Unnes Prof Dr Fathur Rokhman serta tiga anggota Badan Pekerja Senat Unnes, yakni Prof Dr Rustono, Prof Dr Achmad Slamet dan Drs MS Musthofa.
Pencabutan laporan tersebut dilakukan oleh Prof Supriadi setelah melalui renungan panjang selama awal bulan Ramadan, mendengarkan nasihat-pencerahan dari orang tua panutan, saran kolega, persetujuan keikhlasan keluarga besar, dan aspirasi mahasiswa pada acara silaturahmi tanggal 2 Juli 2014.
”Ramadan merupakan momentum untuk memaafkan siapa pun, termasuk memaafkan mereka yang telah melaporkan saya dengan tuduhan sebagai pembuat surat pernyataan palsu,” ujar Supriadi yang juga menjabat Direktur Pendidikdan Tenaga Kependidikan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tersebut kepada wartawan, Kamis (3/7).
Supriadi memaparkan, sebagai seorang akademisi ia berusaha untuk mengedepankan langkah-langkah akademik dalam menangani persoalan internal kampus. Ia juga menghindari langkah-langkah lain yang tidak elok, terutama dalam perspektif akademik dan kemanusiaan. Sebab, laporan yang telah dibuatnya tersebut telah berdampak negatif bagi kegiatan akademik. Pasalnya, sejumlah dosen harus memenuhi panggilan polisi, sehingga begitu menyita perhatian.
”Secara langsung maupun tidak langsung, itu telah mengganggu layanan akademik-nonakademik untuk mahasiswa. Untuk itu, saya memutuskan mencabut laporan,” papar dosen jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) tersebut.
Lebih lanjut Supriadi tetap menghormati hak siapa pun yang menempuh jalur hukum. Pihaknya memandang para pelapor merupakan sejawat dan aset untuk membangun Unnes, baik pada saat ini maupun pada masa mendatang. Meski tuduhan pembuatan surat pernyataan palsu tersebut telah mencemarkan nama baik Supriadi sebagai seorang akademisi.
Supriadi juga menegaskan bahwa dalam konteks yang dituduhkan tersebut, ia berkeyakinan tinggi tidak melakukan pelanggaran hukum apa pun. Ia juga mengaku telah memetik hikmah dari kejadian yang dialaminya menjelang pemilihan rektor dan menganggapnya sebagai ujian.
”Ini ujian bagi saya dan saya ikhlas memaafkan. Sudah seharusnya saya mencabut laporan karena dibutuhkan iklim sejuk untuk membangun kebersamaan,” ungkapnya.
Terpisah, Kasat Reskrim Polrestabes Semarang, AKBP Wika Hardianto, mengatakan, pihaknya sudah menerima surat pencabutan terkait laporan pencemaran nama baik terhadap Prof Dr Supriadi Rustad. Diterimanya surat tersebut juga memastikan penyelidikan terkait laporan tersebut akan dihentikan. ”Kami sudah terima suratnya, dengan begitu penyelidikan terkait pelaporan itu otomatis dihentikan,” katanya saat dikonfirmasi kemarin.
Meski demikian, pihaknya masih terus melanjutkan penyelidikan terkait kasus dugaan pemalsuan surat pernyataan. Dalam kasus tersebut, status Supriadi adalah terlapor. Adapun pelapornya adalah tiga anggota Badan Pekerja Senat Unnes. ”Untuk kasus itu (pemalsuan surat pernyataan, Red) masih berlanjut. Belum ada surat pencabutan laporan dari pihak pelapor. Sejauh ini kami masih kembangkan,” pungkasnya. (har/jpnn/aro/ce1)