Berkumpul Seminggu 4 Kali, Saling Bertukar Pikiran

349

Mengenal Magelang Remote Control, Komunitas Penggemar Mobil Remot

Para penggemar mobil remot kontrol membentuk komunitas tersendiri agar semakin eksis. Adalah Magelang Remote Control (MRC), komunitas yang didirikan 2 tahun lalu ini, sekarang sudah mewadahi 50 anggota. Apa saja kegiatannya?

Berdiri 28 Juli 2012 lalu, Magelang Remote Control (MRC) bertambah eksis. Saat ini anggota yang aktif sudah mencapai 50 orang. Seperti halnya komunitas umumnya, ada yang keluar masuk karena kesibukan masing-masing.
“Tambal sulam anggota hampir setiap bulan ada. Ada yang bekerja, ada yang memang ikut bukan karena hobi. Semakin tua usia komunitas ini, semakin terlihat pula siapa yang konsisten dan siapa yang hanya main-main saja,” kata Ketua MRC, Eka Adi Sapurta.
Pria 25 tahun itu mengaku menyukai mainan mobil sejak kecil. Jika dulu hanya bisa merusak, kini bisa membetulkan mobil seperti sebelumnya. “Sensasinya di situ, kalau ada problem sudah bisa membetulkannya sendiri yang dibantu rekannya,” ujarnya.
Yang paling mengasyikkan ketika berkumpul dan bermain bersama teman-temannya adalah ketika mobil-mobil itu melaju tiba-tiba saling bertabrakan. Di situlah tumbuh seribu tawa saat melihat mobil-mobil mahal itu terguling bahkan ada yang lecet. “Tidak ada yang marah atau menyalahkan, justru hal itu menjadi bahan lawakan kami semua hingga semua tertawa,” akunya sambil tersenyum.
Memang tak mudah menjaga eksistensi untuk show up ataupun hanya sekadar berkumpul saja. Dan tak ada aturan khusus bagi anggota untuk kumpul ataupun tidak, karena semua memiliki aktivitas sendiri-sendiri.
“Kami berkumpul hari Selasa, Kamis, Sabtu dan Minggu. Tak ada sanksi jika ada anggota yang tak bisa hadir. Kami memaklumi itu,” tuturnya.
Eka menjelaskan kepada Radar Kedu, bahwasanya mobil-mobil itu digerakkan oleh remot dan radio control (RC). RC sendiri adalah gelombang radio yang menggerakan mobil-mobil itu sesuai arah yang ditentukan oleh pemain.
“Untuk jangkauan tergantung dari signal, untuk jangkauan Mhz paling tidak 50 meter, sedangkan jangkauan Ghz bisa mencai 100 meter,” imbuhnya.
Dari berbagai jenis mobil seperti adventure, touring, rally, of road dan drift, komunitas yang berkumpul pukul 19.00 malam di Alun-alun Kota Magelang ini lebih dominan memiliki mobil drift. “Jenis itu lebih banyak diminati anggota komunitas kami,” terangnya.
Eka mengaku, selain jenis drift yang banyak diminati, tipe elektrik proporsional (EP) juga lebih banyak disukai. “Dibanding dengan tipe quick drive (QD), EP memang lebih menarik, karena menyerupai tiruan mobil. Kita bisa mengatur sudut kemiringan roda, kekerasan shock breaker, dan kecepatan mobil bisa disesuaikan dari remotnya,” katanya sambil meunjukkan perbedaan mobil dengan tipe EP dan QD.
Tipe EP memang lebih mahal, harg paling murah Rp 1,5 juta hingga puluhan juta dan ratusan juta juga ada. Biasanya tipe ini dimiliki oleh mereka yang memang benar-benar hobi dengan mobil remot control. Untuk membeli tipe itupun paling dekat di Jogjakarta. Untuk tipe QD biasanya untuk kelas pemula, harganya Rp 300-400 ribu di toko-toko mainan disediakan.
“Perawatan EP biasanya lebih sulit dan mahal, sehingga kalau terjadi kerusakan harus beli lagi. Sedangklan QD masih bisa diperbaiki oleh mekanik kami menggunakan peralatan eletronik standar,” ungkapnya.
Sementara itu mekanik MRC, Aditya Yudha Pramadi, 24, mengaku sejauh ini kerusakan mobil yang ditemui di komunitasnya masih bisa terselesaikan. Meskipun berawal dari otodidak saja, kemahiran dia dalam membetulkan cukup diperhitungkan.
“Memang kesulitannya membetulkan yang tipe EP. Selain rumit memang membutuhkan waktu yang lama. Sehingga banyak yang tidak sabar dan akhirnya membeli lagi. Biasanya mereka datang ke basecamp MRC di rumah saya,” imbuhnya.
Selain menjadi mekanik, Adit termasuk anggota komunitas yang berprestasi. Pernah menyabet juara pertama kelas QD sebanyak dua kali di Solo untuk tingkat nasional. Dan ada satu temannya lagi yang berhasil menyabet juara ketiga kelas EP tingkat nasional pula. “Kami juga pernah mengadakan event di Artos Mall beberapa waktu lalu, untuk juara pertama kelas EP diraih kawan kita dari Bekasi,” ujarnya.
Menurutnya, hobi ini banyak manfaatnya. Menambah teman, pengalaman dan saling bertukar pikiran tentang mobil remot control. Biasanya anggota yang baru bergabung sekadar bertanya-tanya saja dengan anggota yang lain, setelah bergabung sudah memiliki mobil remot yang baru.
“Di sini tidak ada istilah pamer atau menuntut punya mobil yang bagus, yang terpenting adalah kebersamaan bagi kami. Dengan bertanya kita juga tak salah dalam membeli mobil di pasaran,” terangnya kepada Radar Kedu.
Rencananya, di ulang tahun yang kedua nanti perayaannya diajukan 24 Juli 2014, karena tanggal 28 Juli berbarengan dengan hari raya Idul Fitri. Komunitas ini akan membagi takjil dan potong tumpeng bersama. “Harapannya, semakin banyak anggota yang baru dan bergabung, komunitas juga tetap solid dan tak ada persaingan apapun,” tandasnya. (*/lis).