KETILENG – Tersangka dugaan penipuan investasi seragam batik senilai Rp 103 miliar, Arista Kurniasari, 38, dan Yohanes Onang Supitoyo, 48, terus melakukan upaya hukum. Setelah mengajukan surat penangguhan penahanan ke Polrestabes Semarang, keluarga Arista kemarin mengadu ke Mabes Polri.
Paman Arista Kurniasari, Sutriyono mengatakan, aduan bernomor SPSP2/2289/VI/2014 tertanggal 26 Juni itu berisi harapan agar Polrestabes Semarang bisa menyelesaikan kasus tersebut secara transparan, objektif, dan profesional. Sebab, Yohanes yang tidak mengetahui apa-apa justru ikut dijadikan tersangka.
”Kami sengaja mengadukan ke Mabes Polri. Harapannya, agar kasus ini diselesaikan secara objektif dan profesional,” kata Sutriyono kepada wartawan.
Sutriyono meminta Polrestabes Semarang melakukan audit dengan melibatkan akuntan publik. Sebab, dari bukti rekening Arista, uang yang masuk hanya Rp 4,5 miliar sejak 2009 sampai 2013. ”Lalu dari mana uang Rp 103 miliar itu tiba-tiba bisa muncul? Ini harus dibuktikan secara objektif,” tegasnya.
Kuasa Hukum Arista Kurniasari dari Biro Bantuan Hukum Kelompok Pelayanan Sosial (KPS), Joko Dwi Santoso, mengatakan, kasus ini bermula ketika Arista Kurniasari dan Dwi Handayani Jurito sepakat menjalin bisnis alat tulis kantor (ATK) dan batik mulai 2009. Arista bertugas menyuplai dan menyiapkan batik, sedangkan Dwi bagian pembukuan. Ketika bisnis berkembang, Dwi Handayani berinisiatif untuk mencari suntikan modal.
Arista menyetujui ajakan dari Dwi, dan akhirnya dicarikan sejumlah orang sebagai pemodal untuk mengembangkan bisnis batik tersebut pada 2010. 
”Arista menyerahkan semua urusan administrasi dan pengurusan permodalan kepada Dwi. Arista sendiri tidak mengetahui siapa pemodal, serta berapa uang yang masuk. Semua urusan uang masuk dan keluar ditangani Dwi,” bebernya.
Pada 2013, Arista mengetahui ada kejanggalan. Barang keluar banyak, namun uang masuk tidak sesuai. Ia kemudian meminta bukti pembukuan, namun Dwi tidak memberikan. Arista lantas membuat surat perjanjian sendiri dengan pemodal pada 2013. ”Sejumlah pemodal melakukan MoU perpanjangan dengan Arista atas rekomendasi Dwi. Tapi hanya sebatas MoU sedangkan uang semua masih Dwi,” jelasnya.
Dari rekapan di rekening Arista, uang yang ditransfer Dwi Handayani hanya Rp 4,5 miliar. Dalam perjalanan, Arista sudah mengembalikan uang beserta keuntungan sebesar Rp 13 miliar. Anehnya, Dwi kembali meminta uang sebesar Rp 79 miliar kepada Arista  pada Februari 2013. Sejumlah pemodal juga dikondisikan untuk mendatangi rumah Arista, dan meminta uang modal kembali.
”Jika memang ini bisnis bersama, kenapa hanya Arista yang dijadikan tersangka? Kenapa Dwi Handayani yang merupakan rekannya bebas?” katanya setengah bertanya.
Pihak Arista sudah melayangkan surat penangguhan penahanan ke Polrestabes Semarang bernomor 209/Pdt.G/2014?PN Semarang tertanggal 5 Juni 2014. ”Justru Dwi Handayani kemungkinan besar yang mendapatkan uang lebih banyak. Karena Arista hanya ditransfer Rp 4,5 miliar,” duganya.
Kasat Reskrim Polrestabes Semarang AKBP Wika Hardianto saat dikonfirmasi tidak menghiraukan laporan keluarga Arista ke Mabes Polri tersebut. Ia menegaskan sudah melakukan semua sesuai prosedur hukum yang berlaku. Termasuk penetapan Arista dan Yohanes Onang sebagai tersangka. ”Buktinya sudah jelas, memang ada unsur penipuan. Kami memprosesnya sesuai hukum yang berlaku,” katanya. (fth/aro/ce1)