Tinjomoyo Pontensial Jadi Kawasan Ekowisata

104

PADA sekitar 2006, Hutan Wisata Tinjomoyo lebih dikenal oleh warga Semarang sebagai Kebun Binatang Tinjomoyo. Saat itu, di dalamnya terdapat beraneka ragam satwa.
Kebun Binatang Tinjomoyo mulai sepi pasca banjir besar sungai Kaligarang yang menyebabkan jembatan penghubung pintu masuk ke objek wisata alam tersebut rusak, hingga melumpuhkan aktivitas pariwisata di tempat tersebut. Apalagi ditambah kondisi tanah sekitarnya yang labil dan mudah longsor.
Atas pertimbangan kedua hal tersebut, Pemkot kota Semarang akhirnya memindahkan kebun binatang Tinjomoyo ke kawasan Mangkang, Tugu.
Menurut Pakar Geo Pariwisata Universitas Negeri Semarang (Unnes), Apik Budi S, kawasan wisata Tinjomoyo yang merupakan perpaduan bukit, sungai, dan hutan yang didominasi vegetasi hutan jati dan pinus memang sangatlah tepat jika dijadikan hutan wisata alam.
Dikatakan, jika kawasan wisata Tinjomoyo kembali dipugar menjadi kebun binatang layaknya kebun binatang kota-kota besar yang lain seperti Taman Safari Bogor maupun Safari Prigen, Pasuruan, maka harus memerlukan investasi dana yang besar.
“Para investor mungkin tidak berani menginvestasikan dananya ke kawasan tersebut,” kata Apik, yang sehari-hari menjadi dosen Geografi Pariwisata Unnes ini.
Kenapa investor kurang tertarik? Pasalnya, dilihat dari sudut pandang kewilayahan, kawasan Tinjomoyo memang tidak menguntungkan jika dimaksimalkan dari sisi ekonominya. “Kawasan tersebut nilai jualnya rendah. Selain rawan bencana banjir, juga rawan longsor. Jika pemerintah kota ingin serius kembali memugar tempat tersebut, jawaban yang paling tepat adalah menjadikan Tinjomoyo sebagai kawasan ekowisata,” tutur Apik.
Sedangkan pindahnya kebun binatang Tinjomoyo ke Mangkang, menurut Apik, seharusnya peran pihak swasta dimaksimalkan dalam pengelolaannya. “Kalau hanya dikelola dengan dana dari pemerintah saja, itu tidak cukup, harus menggandeng pihak swasta, dalam hal ini pengusaha,” tegasnya.
Menurut Ketua Jurusan Geografi Unnes ini, dalam pengembangan wisata, khususnya kebun binatang, pemkot dinilai masih setengah-setengah. “Tinjomoyo yang hampir semua hewan penghuninya dipindah ke kebun binatang Mangkang, juga kurang strategis. Selain akses yang jauh, lokasinya jika dilihat dari segi geografi ekonomi juga kurang begitu menguntungkan,” katanya.
Dikatakan, Pemkot Semarang seharusnya lebih memaksimalkan potensi wisata hotel. Menurutnya, selain berpotensi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD), wilayah Kota Semarang kurang begitu menguntungkan dari sisi geografis jika ingin mengembangkan wisata kebun binatang.
“Hotel kan bisa buat metting ataupun event-event yang lain. Itu kan dapat menambah pendapatan daerah dari pajak. Jika itu dikembangkan, tidak mustahil pendapatan Kota Semarang dari sektor wisata akan naik,” tegasnya.
Saat ini, lahan di Tinjomoyo seluas 57,5 hektare itu lebih banyak dimanfaatkan masyarakat sebagai area combat game, camping ground, outing activity, birds watcing, outbond dan flying fox. Hal ini didukung dengan ketersediaan lahan datar yang cukup luas dengan sungai di salah satu sisi yang sangat cocok untuk kegiatan susur sungai. (mg1/aro)