Pertanyaan:

Assalamu’alikum Wr. Wb, Bapak KH. Ahmad Izzuddin, M.Ag yang saya hormati dan dimuliakan Allah SWT. Dalam pelaksanaan salat Tarawih kita sering jumpai jumlah rakaatnya berbeda-beda. Ada yang melaksanakan 8 rakaat, 23 rakaat bahkan ada yang lebih. Bagaimana pelaksanaan ibadah salat arawih yang sebaiknya kita kerjakan. Contoh, saya pernah mengikuti shalat tarawih 23 rakaat yang imamnya membaca bacaan salat terlalu cepat sehingga tidak membuat saya khusyuk. Terima Kasih.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb
Muklisin, Kudus 085290778xxx

Jawaban:

Wa’alaikum salam Wr. Wb, Bapak Muklisin di Kudus yang saya hormati dan juga dirahmati oleh Allah SWT.
Anda benar jumlah rakaat shalat tarawih yang dilakukan umat Islam sejak masa nabi dan sahabat-sahabat serta murid-murid sahabat berbeda-beda. Diriwayatkan bahwa nabi SAW, pada mulanya keluar ke masjid untuk melaksanakan salat Tarawih, sahabat-sahabat beliau mengetahui tentang hal tersebut mengikuti nabi SAW. Pada malam ke dua jumlah rakaat mereka bertambah, dan pada malam ke tiga jumlah jamaah semakin bertambah sampai-sampai memenuhi masjid. Malam ke empat rasul SAW tidak ke masjid hingga tiba waktu subuh, kendati ketika itu para sahabat memberi isyarat kepada nabi agar beliau keluar.
Setelah shalat subuh beliau menyampaikan bahwa: “Aku mengetahui bahwa kalian mengharap aku keluar shalat, tetapi aku takut, shalat malam ini di wajibkan untuk kamu tidak mampu (karena itu aku tidak keluar).” Di riwayatkan juga bahwa ketiga malam itu nabi shalat delapan rakaat, kendati demikian, shalatnya cukup lama. Riwayat lain menyatakan bahwa sepulang beliau ke rumah, beliau melanjutkan shalat.
Umar Ibn Al-Khaththab menjadikan shalat tarawih dua puluh rakaat. Tidak seorang sahabat pun keberatan atas jumlah ini. Tentu saja mereka mempunyai alasan. Di banyak negeri Islam juga demikian, paling tidak alasan bahwa nabi SAW, memerintahkan untuk mengikuti sunnah beliau dan sunnah Khulafa’ ar-Rasyidin. Para sahabat yang tinggal di Makkah ketika itu melakukan shalat tarawih dan setiap selesai empat rekaat mereka melakukan thawaf.
Nah, di Makkah kususnya pada pemerintah umar ibn al-Aziz (111 H), beliau menganjurkan agar melaksanakan salat empat rakaat tambahan sebagai ganti thawaf itu, dan sejak itu di beberapa negeri Islam, shalat tarawih dilakukan sebanyak 32 rakaat.
Semua Insya Allah benar, karena masing-masing mempunyai dasar pemikiran. Ulama juga memperkenalkan apa yang diistilahkan tanawu’ al-Ibdah, yakni keragaman cara beribadah yang di ajarkan/ di praktikan nabi SAW kesemuanya benar Insya Allah. Memang dalam rincian ibadah yang di tanyakan bukan “Berapa hasil penambahan lima tambah lima” karena ini jawabannya hanya satu, yakni sepuluh, tetapi yang ditanyakan “Sepuluh ditambah berapa hasil berapa.” Anda tahu bahwa untuk ini sekian banyak jawaban yang benar. Dengan demikian, menurut saya, hendaknya ibadah shalat tarawih dijalankan dengan khusuk dan ikhlas semata-mata mengharab ridla Allah SWT, dan silahkan apakah itu 8 rekaat, 23 rekaat, atau bahkan 32 rakaat. Sebab yang terbaik adalah yang menjalankan daripada yang tidak menjalankannya, karena masing-mempunyai pijakan sebagai dasar.
Perlu diketahui juga bahwa sekecil apapun ibadahnya di bulan Ramadhan pahalanya akan dilipat gandakan oleh Allah SWT, jadi kalau menurut saya mari kita ber-fastabiqul khairat di bulan yang penuh berkah ini. Demikian jawaban dari saya, semoga manfaat dan barakah. wallahu a’lam bishshowab. (*)