Nasabah Jarah Rumah Tersangka

145

SLAWI – Aksi penjarahan rumah tersangka penggelapan uang tabungan dan deposito berjalan BPR Mega Artha Mustika ( MAM) Balamoa, Siska Herlina, 31 di rumah kontrakan Perum Mutiara Vantavin II nomor 38 RT 05/ RW 08 Desa Pacul Kecamatan Talang sempat berlangsung dalam sepekan terakhir ini. Aksi ini dipicu kekesalan beberapa nasabah yang merasa tertipu atas lembar deposito berjalan yang sempat dibuat tersangka.
Dari penuturan tetangga dekat tersangka Sri, 34 terkuak tak sedikit nasabah yang lalu lalang dan berupaya mengambil barang yang ada di rumah tersebut sebagai pelampiasan kekecewaan mereka. “Dia ngontrak dirumah tersebut sudah tiga setengah tahun ini. Suaminya berprofesi driver dan menjalankan usaha travel. Rumah itu milik Sumardi warga Adiwerna. Bahkan pemilik rumah sempat tertipu tersangka dengan kerugian Rp 5 juta dan anak pemilik rumah tertipu hingga mencapai Rp 30 juta,” ujarnya.
Gelagat kurang baik pun sempat tercium warga sebulan yang lalu, ketika pasangan pasutri yang dikaruniai satu orang anak itu sudah melakukan upaya mengemasi barang berharga miliknya sejak satu bulan yang lalu. “Saat ini kunci rumah dipercayakan pada adik ipar tersangka yang bernama Ramon. Dialah yang selalu membukakan pintu rumah bila ada tamu yang hendak mencari tersangka. Di lingkungan ini dia lebih dikenal dengan panggilan Lina travel. Sebelumnya setiap hari enam mobil berderet didepan rumahnya untuk dirental maupun melayani ziarah. Sudah dua peka terakhir mobil -mobil itu tidak lagi berjejer di depan rumah. Dan ruang pelayanan travel diteras depan rumah juga tidak buka lagi,” ujarnya.
Sementara itu tetangga yang lain Slamet, 45 mengaku sempat menengok tersangka di RS Mitra Siaga Texin bersama warga. Dari pengakuan sang suami Dwi Agung Sulistyono, tersangka mengalami alergi minuman sehingga sulit bicara dan sesak nafas.
Puncak kekesalan salah satu nasabah sempat terjadi dalam dua hari terakhir ini. Salah satu nasabah asal Desa Kalikangkung sempat meminta penjaga rumah membuka pintu rumah kontrakan itu dan mengambil sofa serta kulkas yang ada di dalam rumah tersebut. Korban Hajjah NF ini mengaku kehilangan uang Rp 100 juta yang disengaja dikumpulkan untuk biaya masuk kuliah anaknya.
” Saya akan menunjuk pengacara untuk menyelesaikan kasus ini. Mungkin korban- korban yang lain juga akan menempuh langkah yang sama dengan saya,” ujarnya. Sementara Ketua RT setempat Yayan saat hendak dikonfirmasi terkait status warganya yang sedang tersandung masalah hukum tidak ada di tempat. Yang bersangkutan sedang menjalankan aktifitas kerjanya di ibu kota. Masih menurut Sri, tersangka oleh sebagian warga dikenal dengan sosok pribadi yang sombong. Bahkan sebagian warga enggan berkomunikasi dan berurusan dengannya.
Terkait aksi penjarahan yang sempat dilakukan beberapa nasabah sempat disesalkan tim penyidik Unit II tipikor Reskrim Polres Tegal. “Sebenarnya tidak dibenarkan secara hukum melakukan penjaharan di rumah tersangka.Dikhawatirkan nasabah yang menjadi korban malah bisa tersandung masalah hukum baru karena melakukan perbuatan melawan hukum. Untuk menghidari perbuatan susulan kami pasang police line agar warga tidak dengan mudah keluar masuk rumah tersangka. Serahkan permasalahan ini pada yang berwajib,” kata Kanit II tipikor Reskim.
Dari hasil penyidikan sementara tekuak beberapa mobil yang dimiliki tersangka sudah ditarik oleh leasing karena terlambat membayar setoran. “Soal modus penipuan dan telah berlangsung sejak berapa lama, serta berapa kerugian yang dialami nasabah masih terus kami dalami sambil menunggu perkembangan kesehatan tersangka utama,” tuturnya. (her/jpnn/ric)