Hera Dwi WN, 17 Tahun Kelola Bonbin dan Hutan Wisata Tinjomoyo

Selama 17 tahun, Hera Dwi Wahyu Nusantara mengelola Taman Marga Satwa (TMS) Tinjomoyo yang kini menjadi hutan wisata. Dia juga menjadi saksi relokasi kebun binatang (bonbin) Tinjomoyo ke Mangkang pada 2006. Seperti apa kisahnya?

M RIZAL KURNIAWAN

WARGA Kota Semarang tentu tidak asing dengan Bonbin Tinjomoyo. Kondisinya saat ini memang terbengkalai, selepas bonbin dipindah ke kawasan Mangkang. Begitu pula bagi Hera Dwi Wahyu Nusantara, ibaratnya semua jengkal area wisata alam tersebut sudah pernah dijelajahinya. Maklum, selama 17 tahun, sejak 1992-2009, ia menjadi pengelola hutan seluas 57,5 hektare tersebut. Kawasan itu menjadi Taman Marga Satwa (TMS) kurang lebih 15 tahun, sejak 1991 hingga 2006, sebelum akhirnya dipindah ke Bonbin Mangkang.   
Hera -sapaan akrabnya– punya banyak pengalaman saat mengelola Bonbin Tinjomoyo, termasuk saat merelokasi koleksi satwa ke TMS Mangkang. Kebetulan Hera adalah satu di antara tim yang turut memindahkan hewan-hewan di Bonbin Tinjomoyo. Proses evakuasi satwa bisa dibilang cukup berat. Utamanya, saat mengevakuasi gajah. Untuk merelokasi mamalia paling besar di darat itu tim harus bekerja ekstra, karena dua ekor gajah koleksi Bonbin Tinjomoyo tidak mau dinaikkan ke atas truk seperti hewan lainnya.
“Waktu itu, terpaksa kami menuntun gajah dari Tinjomoyo hingga Mangkang jalan kaki dengan jarak tempuh lebih dari 20 kilometer,” kenangnya sambil tersenyum.
Hera menceritakan sejarah TMS Semarang yang selalu berpindah-pindah itu. Sebelum pindah ke Mangkang, TMS Kota Semarang berlokasi di hutan Tinjomoyo. Bahkan sebelum di sana (Tinjomoyo),  pada 1955 kebun binatang pertama Kota Atlas berlokasi di Tegal Wareng yang saat ini menjadi Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) dan Taman Hiburan Keluarga Wonderia.
“Saat itu, lahan dan satwa yang ada di dalamnya dikelola oleh perorangan. Seiring perkembangan, satwa-satwa tersebut diserahkan ke pemkot untuk dijadikan Taman Hiburan Rakyat (THR). Karena di kawasan tersebut lahannya terlalu sempit dan dianggap tidak cocok untuk habitat satwa, maka pemkot mencarikan solusi tempat lain yang lebih luas dan sesuai untuk perkembangan satwa,” katanya.
Menurut pria kelahiran Pati, 30 Oktober 1964 ini, pemkot akhirnya memilih lokasi Tinjomoyo sebagai tempat relokasi bonbin setelah melihat kontur dan geografis Tinjomoyo yang begitu luas dinilai sangat cocok untuk perkembangan satwa. Selain itu, juga jauh dari kebisingan kendaraan, dan lokasinya tidak terlalu jauh dari pusat kota. Sehingga mudah diakses warga. 
Namun seiring waktu berjalan, kondisi lahan di Tinjomoyo mulai menunjukkan pergerakan. Tepatnya 15 tahun setelah digunakan sebagai bonbin. Sejumlah pondasi kandang mulai ambrol, karena tanah bergerak. Kandang buaya yang lokasinya dekat dengan aliran sungai juga mengalami kerusakan, karena terus tergerus air sungai pondasi kandang pun semakin keropos. Khawatir puluhan buaya yang ada di dalamnya lepas, maka pemkot pun mulai memikirkan alternatif tempat lain untuk menampung predator mematikan tersebut.
Niatan untuk merelokasi satwa ke tempat lebih aman semakin kuat setelah jembatan Tinjomoyo sebagai akses utama ambrol. Jembatan sepanjang kurang lebih 100 meter itu ambrol sekitar 2004. Kondisi tersebut sempat menghambat operasional bonbin. “Suplai makanan dan karyawan terpaksa lewat belakang. Lewat Gombel Lama, Kelurahan Tinjomoyo. Kemudian, untuk akses sementara akhirnya diberi jembatan belly,” ceritanya. Pemkot saat itu melakukan penanganan sementara dengan memasang jembatan belly sewa milik TNI.
Pada 2005-2006 satwa mulai dipindah secara bergiliran ke TMS Mangkang. Buaya dipindah ke Taman Lele, karena saat itu kandang buaya di Bonbin Mangkang belum terbangun. “Yang pertama dipindah itu buaya, karena kandangnya terus tergerus sungai, jadi dititipkan ke Taman Lele dulu sambil menunggu kandang yang di Mangkang selesai,” kata pria yang menjadi CPNS dan bertugas di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) sejak 14 November 1992 itu.
Yang menarik, dari semua satwa koleksi Bonbin Tinjomoyo, gajahlah yang tidak mau diangkut menggunakan truk. Untuk yang lain dimasukkan ke dalam kandang boks dan dinaikkan ke atas truk.
“Kita juga heran karena hewan yang lain mau dinaikkan ke dalam truk. Gajah dipancing seperti apapun agar masuk ke dalam truk juga tidak bisa. Akhirnya, kita paksa jalan lewat sungai, karena saat kita lewatkan jembatan belly juga tidak mau,” ujarnya.
Sebelum mengangkut gajah, lanjut Hera, tim melakukan survei jalur pengawalan gajah. Tim harus mencari jalur alternatif agar tidak mengganggu arus lalu lintas. Dan sebisa mungkin menghindari keramaian masyarakat.
“Sebelum berangkat kita survei dulu, dalam perjalanan rintangan apa yang bisa mengganggu gajah, kira-kira arus lalu lintas padat jam berapa saja. Kita juga pertimbangkan warung-warung di sepanjang jalur yang nantinya akan dilewati gajah, karena kita antisipasi kalau gajah mengamuk dan merusak warung-warung. Kita amati hingga ke arah itu, jadi banyak sekali hal yang kita pertimbangkan sebelum pemindahan,” jelasnya. 
“Kemudian kita putuskan waktu pemindahan pada malam hari. Karena kita tidak berani mengambil risiko, takut gajahnya stres atau kaget kalau diangkut siang hari. Dan khawatir kalau banyak masyarakat yang ingin memegang dan meminta foto,” ceritanya sambil tersenyum.
Sekitar pukul 21.00, dua ekor gajah tersebut dikawal keluar kawasan Tinjomoyo melalui sungai. Kemudian melewati jalur alternatif Sampangan-Petompon-Kedungbatu-Pamularsih-Kalibanteng-Siliwangi-Krapyak hingga Mangkang. Selama perjalanan tim membawa bekal minum dan makanan untuk gajah.
“Kita kawal jalan kaki sampai Mangkang. Perjalanan kita sesuaikan fisik gajah. Ketika gajah lelah dan ingin beristirahat kita turuti. Saat itu, kita istirahat di Petompon, kemudian Gedungbatu, dan tempat lainnya. Pokoknya kita jalannya santai. Saat itu, kalau tidak salah sampai di Mangkang pukul 02.00 dinihari atau selama 5 jam,” ujarnya.
Menurut Hera, pengalaman tersebut sangat berkesan. Hingga saat ini dia terus teringat dan merasa bangga bisa mengawal gajah dari Tinjomoyo hingga Mangkang dengan jalan kaki.
“Satwa terakhir yang diangkut orangutan. Karena kandang orangutan saat itu belum jadi. Hingga akhirnya pada Februari 2006 TMS Mangkang resmi dibuka,” kata pria yang saat ini bertugas menjadi pengelola Taman Sodong, Kelurahan Purwosari, Kecamatan Mijen, ini. (*/aro)