Banyak Bangunan Tua Mangkrak Ganggu Estetika Kota


Bangunan serta lahan mangkrak di Kota Semarang, ternyata jumlahnya cukup banyak. Tidak hanya di kawasan Kota Lama, tapi merata di banyak tempat strategis lainnya. Bahkan, ada yang menjadi aset Pemkot Semarang dan ada yang milik perseorangan. Keberadaannya sangat mengganggu keindahan atau estetika Kota Semarang.

KETIKA menyusuri jalan protokol di Kota Semarang, sangat gampang untuk bisa menemukan bangunan-bangunan mangkrak. Salah satunya adalah bekas Hotel Siranda yang terletak di Jalan Diponegoro Semarang. Meski terbilang di pusat kawasan perkotaan, tidak menjamin akan kebersihannya.
Saat Radar Semarang mencoba melihat lebih dekat bangunan yang lokasinya di dekat Markas Kepolisian Daerah (Mapolda) Jawa Tengah tersebut, bangunan tersebut sudah sangat usang dan tak terawat. Kesan angker melekat pada bangunan bertingkat bercat kuning ini. Tampak, hiasan lumut hampir memenuhi seluruh dindingnya.
Berdasarkan informasi dari warga sekitar, tempat tersebut sekarang dijadikan markas security. Namun hal berbeda diungkapkan oleh seorang penjaga tempat yang diketahui bernama Edi S. Menurutnya, tempat tersebut tidak berpenghuni dan masih menjadi aset Bank Panin. ”Saya (menjaga) di sini juga dibayar oleh Bank Panin,” tuturnya.
Disinggung mengenai keberadaan anak jalanan dan pengamen yang dikabarkan juga menempati bekas hotel tersebut, Edi menampiknya. Menurutnya, tempat tersebut tertutup untuk siapa pun. ”Jangankan anak jalanan, petugas polisi dari Polda pun tidak diizinkan masuk sini,” tegasnya.
Dari balik gerbang, tampak beberapa anjing yang menjaga tempat tersebut. Ketika wartawan mencoba meminta izin memasuki bangunan tersebut untuk mengambil beberapa gambar dan melihat lebih jauh, Edi dengan terus terang menolaknya. Apalagi ketika tidak disertai surat izin dari pihak pengelola. ”Mohon maaf, kami tidak bisa,” imbuhnya.
Lantaran mendapat penolakan, Radar Semarang berpindah menelusuri bangunan mangkrak lainnya. Sampailah pada bangunan tua peninggalan Belanda yang lokasinya di Jalan S Parman Kelurahan Gajahmungkur. Orang sekitar menyebutnya Bangunan Tua Gajahmungkur.
Berbeda dengan bekas Hotel Siranda, bangunan tersebut terlihat sedikit terawatt, meski kesan kumuh tetap ada. Tampak beberapa pohon rindang menghiasi sebagian bangunan yang sekelilingnya ditutup dengan pagar seng. Bangunan tersebut berseberangan dengan SPBU Gajahmungkur.
Ketika hendak memasuki bangunan tersebut, pintu gerbang terkunci. Terlihat dari balik gerbang, tidak ada kehidupan di dalamnya. Yang ada hanyalah barang-barang usang yang telah lama tidak dipakai.
Beberapa jurus kemudian, pandangan Radar Semarang tertuju kepada seseorang juru seberang jalan yang kemudian diketahui bernama Kelik. Kepada koran ini, Kelik menceritakan bahwa bangunan tersebut milik warga yang bernama Gunawan Hartono. Sesekali sang pemilik lahan mempekerjakan orang untuk membersihkan dan merawat tempat tersebut. ”Dengar-dengar sih mau dibangun, kemudian dijual lagi. Tapi dari pihak pemerintah melarangnya,” ungkap pria berkacamata ini.
Alasan pemerintah melarang, imbuh Kelik, lantaran bangunan tersebut merupakan cagar budaya. Sehingga tidak boleh mengubah jenis dan modelnya. Alasan lain adalah larangan pemerintah mendirikan rumah dengan ketinggian tertentu sehingga menggangu penerbangan pesawat dari Bandara Ahmad Yani. ”Padahal dari pemilik rumah telah membuat maketnya,” akunya.
Atas dasar itu, bangunan tersebut kemudian mangkrak. Beberapa kali, tempat tersebut pernah dijadikan tempat uji nyali oleh salah satu stasiun TV nasional. ”Kalau masalah hantu pasti ada. Tergantung keyakinan kita,” ucapnya menambahi.
Kelik mengaku sangat menyayangkan sikap pemerintah yang tidak tanggap terhadap bangunan-bangunan mangkrak. Ia bahkan mampu membeberkan daerah-daerah mana saja yang ada bangunan kunonya dan butuh perhatian pemerintah.
”Misalnya di daerah Jangli, ada tiga tempat yang kemudian dibongkar menjadi pertokoan. Jika tempat tersebut dikelola dengan baik, tentunya bisa menjadi tempat wisata yang dapat menguntungkan,” bebernya sebelum meminta izin untuk kembali bekerja.
Penelusuran pun berlanjut ke sebuah rumah di dekat Rumah Makan Padang di Jalan Ahmad Yani Semarang. Rumah yang tak jauh dari perempatan Bangkong itu tampak terkunci dan gembok dari dalam. Meski bersebelahan dengan pohon besar, rumah bercat putih tulang itu terlihat bersih dan terawat. Dari balik gerbang, terlihat perabotan rumah seperti kursi dan juga tikar.
Saat dikonfirmasi kepada seorang penjaga parkir di kawasan tersebut, ia mengaku bahwa rumah tersebut berpenghuni. Meski sekilas terlihat mangkrak, namun ada orang yang merawatnya. ”Saya tahu ada yang menempati, meski tidak tahu namanya,” ujarnya.
Sementara itu, Kasatreskrim Polrestabes Semarang, AKBP Wika Hardianto, kerap melakukan patroli di lokasi bangunan tua. Terutama, lokasi yang kerap dijadikan ajang kumpul para preman. ”Kami selalu hunting untuk meminimalisasi keberadaan preman di Semarang. Terutama di sejumlah bangunan yang sudah tidak terpakai,” katanya. (fai/fth/ida/ce1)