Lebih Dekat dengan Kapolres Magelang AKBP Murbani Budi Pitono SIK, MSi

Kehidupan di desa menempa AKBP Murbani Budi Pitono menjadi seorang polisi yang sukses hingga saat ini. Tapi tetap butuh perjuangan untuk meraihnya. Seperti apa? 

MUKHTAR LUTFI, Mungkid

MALAM Natal tahun 2000 di Sukabumi Jawa Barat. Tiba-tiba sebuah mobil minibus meledak. Duaarrrr….tepat di depan mobil patroli Polres Sukabumi. “Saat itu saya sedang patroli pam Natal, mobil meledak di depan saya persis,” kata Murbani Budi Pitono.           
Mobil yang meledak tadi merupakan satu dari puluhan mobil yang rusak dirangkaikan bom Natal oleh komplotan teroris tahun 2000 silam. Korban berjatuhan.  “Seorang anak di dalam mobil mengalami luka paling parah dengan tubuh hampir terpotong,” kata Murbani.
Kondisi yang mengenakan mengharuskan Murbani tak panik. Sebagai polisi mau tidak mau dia harus melakukan pertolongan. “Saya angkat anak yang terluka parah hampir separo badan terpisah,” ungkap Murbani.
Menurutnya, bom sengaja dititipkan kepada korban dalam bentuk kado Natal. Tak curiga, oleh korban bom dimasukkan ke dalam mobil.  Itu adalah salah satu peristiwa yang tidak dilupakannya selama bertugas. “Saya sempat gemetar tapi bisa segera saya atasi hingga korban dibawa ke rumah sakit,” kata Murbani yang saat itu menjadi Kasat Shabara Polres Sukabumi.         
Murbani sendiri lahir dan besar di Lereng Gunung Merbabu. Tepatnya di Dusun Muneng Warangan Desa Warangan Kecamatan Pakis Kabupaten Magelang. Di desa dia seperti anak-anak lain pada umumnya. “Saya paling suka olahraga sama nyari nyerok ikan,” ungkapnya.       
Juga kerap membantu orang tuanya mencari kayu di hutan. “Itu paling menyenangkan selain saya juga tetap belajar di sela membantu orang tua,” kata dia.
Dia kemudian mulai mengenal kota di tahun 1989. Murbani mulai menempuh pendidikan sekolah menengah atas.
Meski tak terlalu jauh dengan rumahnya, pria asal lereng Gunung Merbabu ini merasa canggung. Budaya dan pola kehidupan saat itu berbeda jauh.  ”Sempat mengalami kesulitan pertama pindah sekolah di kota karena saya orang desa,” kata Kapolres Magelang ini.
”Termasuk pola pendidikan sangat berbeda. Ada bimbingan belajar dan lain-lain yang tidak saya jumpai di desa. Saya sempat tertinggal dari teman-teman lain,” ungkap anak pertama dari lima bersaudara itu.
Namun, kegigihannya belajar berbuah manis. Di sekolah favorit itu dia selalu meraih rangking tiga besar. Menyelesaikan pendidikan SMA, Murbani kemudian mendaftarkan diri kuliah di UGM. Bersamaan itu juga dia mendaftar di AKABRI yang saat itu masih berintegrasi dengan akademi polisi. ”Alhamdulillah saya diterima di dua instansi pendidikan itu,” jelas ayah lima anak ini.
Namun, dorongan untuk membantu keluarga  akhirnya, Murbani muda memilih masuk ke AKABRI di tahun 1992. Di Akpol prestasinya mengantarkan tugas perdana di Polda Jawa Barat. Mendapat job perdana di Pulau Jawa kata para alumnus akademi kepolisian, hanya diperoleh bagi mereka yang berprestasi.
Di Polda Jawa Barat, Murbani mendapatkan job sebagai kepala satuan lalu lintas dan kepala kepolisian sektor. Setelah itu dia masuk di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian hingga tahun 2005.  ”Usai PTIK saya kemudian ditugaskan di Polda Sulawesi Utara jadi Kasatlantas Polrestabes Manado dan Wakapolres Minahasa,” jelas dia.     
Kemudian dia ditarik ke Mabes Polri di Biro Pembinaan Karir SDM. Setelahnya menjadi Kapolres Magelang sejak setahun lalu. Pertama kali menjadi kapolres, Murbani kemudian menelurkan program Magelang Peduli. “Program ini menjadikan anggota lebih peduli, terhadap masyarakat. Peduli dalam artian lebih sungguh-sungguh dan mencurahkan sepenuhnya untuk mengabdi kepada masyarakat,” kata dia.         
Sehingga, untuk menyukseskan program ini, dia ingin membentuk anggota yang berenergi dan berakhlakul karimah. “Setiap Kamis pagi seluruh anggota wajib hukumnya mengikuti siraman rohani,” kata dia.
Program lain untuk membuat anggota berenergi adalah menggalakkan kesenian keprajuritan, dan merutinkan olahraga. “Saya menganggap anggota itu sebagai anak yang harus dibela didampingi dan diberikan tuntunan,” jelas dia.
Seperti halnya orang tuanya, almarhum Sudiyono Sasmito Mulyo dan Sri Rahayu yang tak lelah menanamkan nilai-nilai moral dan kedisiplinan. Ada tiga hal pesan almarhum ayahnya yang tak pernah dilupakan. “Satu wajib belajar, tidak boleh pacaran dan merokok,” ungkap dia.
Menurut orang tuanya, tiga hal itu yang bisa menjerumuskan orang dan menggagalkan kesuksesan. “Jadi saya berani pacaran setelah bekerja,” terangnya. 
Kini tiga hal itu terus ditanamkannya ke anak-anaknya. Dia hanya berharap semua keluarganya terus bahagia. (*/lis/adv)