Ketika Peningkatan Produksi Batik Sebabkan Pencemaran Sungai

Menjelang datangnya Hari Raya Idul Fitri, produksi batik di Kota Pekalongan melonjak tajam. Sekitar 1.150 industri batik rumah tangga berproduksi. Akibatnya 5 sungai besar yang ada di Kota Pekalongan, seperti sungai Loji, Bremi, Asem Binatur, Miduri dan sungai Kali Banger semuanya tercemar limbah cair batik, baik dari industri rumahan atau pun pabrik.

Taufik hidayat, Pekalongan

Akhir-akhir ini semua sungai tersebut berwarna hitam, dengan aroma yang tidak sedap, dan sangat menganggu warga Kota Pekalongan dan sekitarnya. Dari penelusuran yang dilakukan Kantor Lingkungan Hidup Kota Pekalongan, Jumat (27/6) siang, semua sungai di Kota Pekalongan tidak hanya tercemar oleh limbah batik dan industri. Namun juga sampah rumah tangga yang dibuang langsung ke sungai. Tak heran, jika setiap hujan satu jam Kota Pekalongan tergenang.
Seperti tampak pada sungai di Kelurahan Sapuro hingga Kergon, Kecamatan Pekalongan Timur. Sepanjang sungai yang padat dengan pemukiman tersebut sampai menumpuk dan berserakan, tak sedikit yang menghalangi arus sungai. Bahkan bambu dan kayu bekas bangunan ikut memperparah kondisi sampah di sungai.
Sedangkan sepanjang sungai Loji, mulai dari Kelurahan Jenggot, Kecamatan Pekalongan Selatan, hingga jembatan Loji, Kelurahan Krapyak dan hulu sungai Kelurahan Slamaran, Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan, sungai tampak hitam pekat dan berbau menyengat.
Kepala Kantor Lingkungan Hidup Kota Pekalongan, Slamet Budiyanto menjelaskan, tumpukan sampah di tepi sungai dan sampah yang mengambang terdapat di semua Kelurahan yang ada di Kota Pekalongan. Menurutnya, sampah terbanyak ditemui di Kelurahan Kergon, hingga Kelurahan Sapuro. ”Di beberapa Kelurahan, banyak ditemui badan sungai yang didirikan bangunan untuk kepentingan rumah tangga dan mereka langsung membuang sampah ke sungai,” jelas Slamet.
Slamet juga menandaskan, tercemarnya semua sungai di Kota Pekalongan oleh limbah batik dan industri serta sampah menunjukan minimnya kesadaran masyarakat akan kebersihan dan kepedulian lingkungan. Menurutnya, dengan banyaknya sampah dan bangunan yang didirikan di badan sungai, mengakibatkan pendangkalan pada sungai. ”Kondisi nyatanya, masih banyak yang membuang limbah industri dan sampah ke sungai,” tandas Slamet, usai menyusuri sungai di Kota Pekalongan.
Sementara itu, Wali Kota Pekalongan Basyir Ahmad mengakui pihaknya kesulitan menangani limbah cair yang ada di Kota Pekalongan. Menurutnya limbah cair yang mencemari semua sungai di Kota Pekalongan tidak sepenuhnya dari industri batik di Kota Pekalongan. Namun juga kiriman limbah dari daerah tetangga. ”Sebanyak 70 persen limbah di Kota Pekalongan, adalah kiriman dari daerah selatan, dan kita kesulitan mengatasi limbah tersebut selama daerah atas belum dibenahi,” ungkap Basyir Ahmad.
Basyir juga membantah tidak semua limbah cair di Kota Pekalongan dari industri batik yang dikerjakan di rumah. Namun lebih didominasi dari limbah cair jins, dan industri tekstil di sekitar Kota Pekalongan. ”Kebanyakan limbah yang mencemari sungai, bukan dari industri batik, namun dari limbah cucian jins,” lanjutnya. (thd/ric)