SEKAYU – Kemeriahan kirab budaya dugderan setiap tahunnya memang tidak pernah surut. Tradisi jelang bulan Ramadan itu selalu dinanti-nanti masyarakat Kota Semarang sebelum menjalankan ibadah puasa. Jumat (27/6) kemarin, merupakan puncak prosesi tradisi dugderan. Hampir seharian, masyarakat Kota Atlas disuguhi kesenian dan budaya khas Semarang yang diperankan oleh ribuan peserta. Ribuan masyarakat pun terfokus pada gelaran tahunan itu. Setiap rute kirab budaya dugder selalu dibanjiri penonton.
Rangkaian puncak prosesi dugderan diawali karnaval di Lapangan Simpang Lima. Sejak pukul 06.00, ribuan pelajar mulai tingkat TK, SD/MI, dan SMP/MTs se-UPTD Pendidikan Kota Semarang memadati lapangan. Mereka kemudian menampilkan atraksi dan kesenian lokal berbentuk pasukan kembang manggar, pembawa warak, Bhinneka Tunggal Ika, drum band, rebana, thek-thek dan lain sebagainya.
Ribuan peserta dugder kalangan anak-anak dan pelajar menggelar karnaval mengelilingi Lapangan Simpang Lima, memutar ke depan Hotel Ciputra menuju Jalan Pahlawan belok di depan Kantor Gubernur dan berakhir di Taman KB Jalan Menteri Supeno. Pemberangkatan peserta karnaval ditandai pelepasan balon dan pengibaran bendera start oleh Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi.
Selain karnaval anak-anak, di Simpang Lima juga dimeriahkan dengan karnaval mobil hias warak yang diikuti sekitar 50 mobil dari penggiat pariwisata, hotel, pengelola objek wisata, bank, subrayon SMA, SMK dan SMK, pengelola mal, perkumpulan pencinta mobil dan motor Kota Semarang dan pengelola taksi. Start pukul 09.30 diawali pasukan merah putih diikuti drum band dan colour guard oleh SD Ngaliyan 01. Rutenya dari Lapangan Simpang Lima menuju Jalan Ahmad Yani-MT Haryono-Bubakan-Citarum dan berakhir sekitar SPBU Soekarno-Hatta.
Kawasan yang dilewati peserta karnaval pun dibanjiri penonton. Banyak pengendara yang tertarik dengan karnaval dugderan pelajar dan mencoba berhenti untuk melihat kepiawaian anak-anak memainkan alat musik drum band dan rebana.
Sore harinya sekitar pukul 15.30, prosesi dugderan dilanjutkan dengan kirab budaya. Sejak siang, masyarakat pun telah berbondong-bondong datang di Jalan Pemuda, yang menjadi pusat peserta kirab budaya berkumpul. Seremoni dugder diawali dengan penabuhan beduk oleh Wali Kota Semarang di halaman Balai Kota. Karnaval dugder sesi sore terdiri atas kelompok perwakilan 16 Kecamatan, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Kementerian Agama, PITI, Tiga Akar Budaya (China, Arab dan Jawa), perwakilan dari SMA/SMK dan Madrasah Aliyah, Kepemudaan, Pasukan Pandanaran, Kereta Kencana dan Bendi.
Dalam prosesi tersebut wali kota menaiki kereta kencana dikawal oleh pasukan Pandanaran, pasukan berkuda dan bendi hias dengan jumlah peserta kurang lebih 6.000 orang. Rombongan pun menuju Masjid Kauman. Di salah satu masjid tertua di Kota Semarang itu, dilakukan pembacaan sukuf qolakho halaqoh dan penabuhan beduk yang disertai meriam, pembagian ganjel rel dan air khataman Alquran.
Selesai prosesi di Masjid Kauman, wali kota beserta rombongan menuju Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT). Untuk menyerahkan sukuf halaqoh kepada Gubernur Jateng Ganjar Pranowo selaku Raden Mas Tumenggung Probohadikusumo. Setelah itu diteruskan dengan pembacaan sukuf halaqoh oleh Gubernur Jateng dilanjutkan penabuhan beduk dan bom udara.
Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi menyatakan, kirab budaya dugder sudah menjadi tradisi Kota Semarang yang tidak dimiliki daerah lain. Karena itu, lanjut Hendi –sapaan akrabnya— masyarakat diminta menjaga dan terus melestarikan budaya dugderan ini.
”Kirab budaya dugder kali ini memang berbeda dibanding tahun lalu. Proses yang paling kentara di waktu. Kalau biasanya diselenggarakan siang hari setelah salat Duhur, sekarang setelah salat Ashar. Dengan pertimbangan ini hari Jumat kepotong salat Jumat. Terlebih kita coba prosesi ini hingga malam hari, sehingga peserta kirab ini tidak terlalu panas,” katanya sebelum melakukan penabuhan beduk.
”Kita sambut datangnya bulan Ramadan satu dua hari lagi. Kita putuskan untuk kebersamaan diadakan sebelum semua puasa. Besok mau puasa silakan, lusa juga silakan, yang penting perbedaan ini sebuah ranah yang sangat indah tidak perlu diperdebatkan,” imbuhnya.
Takmir Masjid Kauman Muhaimin menambahkan, berbeda dengan pelaksanaan dugderan tahun-tahun sebelumnya, tahun ini prosesi digarap lebih meriah. Selain malam hari beberapa panitia juga akan menyiapkan 8.000 bungkus kue ganjel rel dan air khataman Alquran. ”Perlu kami sampaikan, bahwa dugderan bukan penetapan malam Ramadan, tapi budaya untuk mengayu bagyo menyambut Ramadan,” tegasnya.
Riyanna, 27, warga Sampangan mengaku sudah standby di halaman Balai Kota sejak pukul 13.00. Hal itu dilakukan hanya untuk melihat kemeriahan dugderan. ”Saya memang sengaja datang lebih siang, karena kalau datang sore, jalannya sudah ditutup. Jadi, mending menunggu sebentar tapi dapat tempat parkir dan tempat untuk nonton. Kebetulan saudara saya juga menjadi peserta kirab,” ujarnya.
Siti Yuliati, 36, yang saat itu datang bersama keluarganya mengaku senang melihat atraksi-atraksi yang disuguhkan peserta dugderan dari kalangan TNI. Dia dan keluarganya setiap tahun rutin selalu menyempatkan nonton kirab budaya di halaman Balai Kota.
”Menarik sekali atraksi-atraksinya. Kegiatan ini hanya setahun sekali jadi sayang sekali kalau tidak nonton. Budaya seperti ini memang menjadi hiburan masyarakat sebelum puasa. Kalau bisa ke depan lebih menarik lagi,” harapnya. Tak hanya masyarakat lokal saja, wisatawan mancanegara juga turut menyaksikan. Mereka terlihat sibuk mengambil gambar menggunakan kamera DSL maupun ponsel. (zal/aro/ce1)