Suratman Entaskan Preman Kampung dengan Bertani

Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) Merbabu punya cara menarik untuk merekrut kader-kader pertanian di desa. Salah satunya dengan mengangkat para preman kampung.

MUKHTAR LUTFI, Mungkid     

PAGI-pagi sekali Antok sudah berangkaat ke ladang. Tubuhnya yang kurus, dibalut jaket tebal untuk melawan dinginnya suhu di lereng Gunung Merbabu.
Sebuah alat semprot digendong di punggung. Tangannya membawa bekal seadanya. Hanya untuk sekadar mengisi perut.     
Hari itu dia punya agenda memberi pupuk sayuran kubis miliknya. Sepertinya panen tahun ini bakal bagus.   Ya, sejak tiga bulan belakangan pria 25 tahun itu sudah menekuni usaha sebagai petani. Dulu dia tak segiat dan serajin sekarang.
Sebelumnya dia pengangguran. Tak punya pekerjaan. Jadi banyak waktu luang yang dipakai untuk kegiatan negatif. Ya, mabuk, judi ya kadang berkelahi.
Kini ada  250 pemuda Dusun Dukuh, Desa Sumberejo, Kecamatan Ngablak yang sama rajinnya. Mereka aktif di kelompok P4S ‘Tani Merbabu.       
Memang, kelompok tani itu memprioritaskan pemuda untuk mengembangkan usaha pertanian di desanya. Itu tak lain untuk mengubah gaya hidup pemuda desa tersebut.   
“Pemuda-pemuda desa kami sering melakukan hal-hal negatif. Mabuk-mabukan sudah menjadi hal biasa. Ketika tidak ada kegiatan, para pemuda lebih memilih mabuk dan bahkan condong ke perkelahian,” ujar salah satu pengiat P4S Suratman.
Dulu, kata Suratman, kcenderungan hal-hal negatif itu bukan tanpa alasan. “Ya, ketika tidak ada aktivitas pemuda sering kelayapan ke desa-desa lain. Tak jarang mereka hanya ikut menonton di acara suatu hiburan,” katanya.     
Kini, pemandangan itu perlahan mulai hilang. Pria 40 tahun tersebut  menjadi saksi adanya perubahan pola pikir pemuda setempat. “P4S sengaja merekrut para pemuda. Karena memang dengan pemuda memanajemen organisasi bisa utuk diajak bekerja. Mereka kemudian didorong dengan pelatihan-pelatihan terkait pertanian,”jelasnya.       
Pria yang kini menjabat Ketua Divisi Pengorganisasian P4S ”Tani Merbabu” ini mengaku, dengan kegiatan di pertanian, para pemuda sudah tidak ada waktu untuk berduduk-duduk santai. Mereka disibukan dengan panen hasil pertanian, pelatihan  dan lainya. “Lahan disiapkan juga bagi yang tidak punya,” ungkap dia.
Dia mengungkapkan bahwa, organisasi P4S ”Tani Merbabu” dibentuk pada Agustus 2010 lalu. Hingga kini terus mengalami perkembangan. Bahkan kini beranggotakan 568 petani dari 27 kelompok tani. Anggotanya yang mencapai 568 orang tersebar di dua dareah dan 3 Kecamatan.     
Mereka berasal dari wilayah Kecamatan Ngablak dan Pakis, Kabupaten Magelang. Serta dari Getasan, Kabupaten Semarang. Pertemuan kelompok itu dilakukan setiap Senin Wage, dan setiap kelompok mengirimkan utusan dua orang.
”Lembaga ini juga dipandu oleh 12 orang ahli pertanian. Setiap tahun petani mendapat pelatihan dari beberapa perguruan tinggi terkemuka di Indonesia,” ungkap dia.     
Dari hasil kerja para pemuda, kini petani di bawah naungan P4S menyetorkan hasil pertanian ke sejumlah tempat. Di antaranya di supermarket dan hotel, melalui suplayer. Mereka juga menyuplai kebutuhan sayuran di sejumlah pasar lokal.
Berkat kegiatan P4S ini pertanian lebih maju. Dan tak jarang kelompok tani itu menjadi jujukan studi banding.
Bahkan belum lama ini sempat mendapat kunjungan Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Kabupaten Intan Jaya, Papua. Mereka melakukan orientasi ketahanan pangan dan penyuluhan.
“Melalui organisasi ini kami mengurusi 72 komoditas pertanian. Dari jumlah itu yang sudah bisa dipasarkan sebanyak 32 komoditas,” tandasnya. (*/lis)