Lebih Dekat dengan Komunitas Citroen Holic Semarang

Penggemar mobil jadul jenis Citroen di Kota Atlas ternyata cukup banyak. Mereka tergabung dalam Komunitas Citroen Holic Semarang (CHS).

MIFTAHUL A’LA, Pleburan

DERETAN mobil jadul terlihat tertata rapi di Jalan Pahlawan, Semarang. Bak showroom berbagai jenis mobil keluaran Eropa itu tampak kinclong dengan model dan warna yang menarik perhatian pengguna jalan. Di dekat deretan mobil, terdapat sejumlah pria asyik mengobrol.
Ya, itulah aktivitas bareng yang dilakukan Komunitas Citroen Holic Semarang. Saat nongkrong itu, anggota komunitas ini saling berbagi pengalaman dan sharing tentang semua persoalan mobil Citroen. Mobil jadul yang sudah menjadi tambatan hati, sekaligus menyalurkan hobi.
”Seminggu sekali semua anggota Komunitas Citroen Holic Semarang berkumpul di sini (Jalan Pahlawan, Red). Ini untuk tetap menjalin kekompakan,” kata Ketua Komunitas Citroen Holic Semarang (CHS), Isma Yanuar kepada Radar Semarang.
Janu –sapaan akrabnya– mengatakan, sebenarnya Komunitas Citroen Holic Semarang sudah berdiri sejak 2000. Tapi, saat itu masih menggunakan nama Citroen Club Indonesia (CCI) Semarang. Seiring dengan berjalannya waktu, akhirnya berubah nama menjadi Komunitas Citroen Holic Semarang. ”Sekarang anggotanya 35 orang dari berbagai usia. Mulai remaja sampai yang sudah sepuh,” ujarnya.
Dikatakan, karena mobil Citroen rata-rata sudah jadul, tak semua bengkel bisa memperbaikinya. Komunitas ini memiliki bengkel khusus bagi pemilik mobil Citroen, yakni bengkel Citroen Motor di Jalan Genuk Baru, Tegalsari, Semarang. Di bawah mekanik Mbah Pon, Yudi dan Udin, semua persoalan mobil Citroen bisa diatasi. ”Ya, memang harus ada bengkel khusus, sekaligus tempat untuk berkumpul sesama pengguna Citroen,” katanya.
Berbagai kegiatan dilakukan komunitas ini. Mulai kegiatan bakti sosial (baksos), aksi sumbang darah hingga traveling maupun touring. Saat touring inilah banyak anggota yang mengalami kajadian, baik susah maupun senang selama perjalanan. ”Misalnya, saat touring ke Jakarta, sampai 20 jam lebih baru sampai. Maklum mobil jadul,” tambah Komang sambil tersenyum.
Dikatakan, saat komunitas ini touring ke Bandung pada akhir 2013 lalu pun ada pengalaman yang cukup unik. Mobil yang digunakan keluaran 1974 sampai 1986. Jenis mobil tipe BX, Gs dan Cx yang menggunakan sistem suspensi hidrolik. Mobil Citroen jenis ini pun bisa diatur ketinggiannya. Baik ceper maupun tinggi untuk menghindari banjir. Dengan menggerakkan tuas di tengah, maka mobil ini bisa naik turun secara otomatis.
Nah, di tengah perjalanan ke Bandung itu, tidak terasa ban belakang salah satu mobil anggota komunitas ini bocor. Anehnya, meski ban bocor, tapi si pengemudi tidak menyadari. ”Tahunya pas berhenti, ternyata ban belakang sudah habis dan hanya tinggal velg. Memang kelebihannya bisa berjalan dengan tiga roda,” kenangnya sambil tertawa.
Selain itu, lanjut Komang, saat di tengah jalan, mobil Citroen selalu menjadi perhatian banyak orang. Cukup beralasan, karena jenis mobil ini unik, lucu dan jadul. Tidak jarang, ketika touring mereka harus menjawab berbagai pertanyaan orang yang penasaran. ”Banyak yang bilang lucu dan unik,” katanya.
Anggota komunitas ini berharap para penggemar mobil jadul bisa terus bertambah. Bersama dengan Komang, Putu, Amdre dan anggota lain, mereka berusaha untuk terus memperkenalkan komunitas ini di tengah masyarakat. Mobil-mobil jadul ini ternyata memiliki nilai eksotisme tinggi dan justru menarik. Mobil keluaran tahun lama semakin banyak peminatnya.
”Saya saja sampai harus ke luar kota untuk berburu mobil yang benar-benar eksotis dan jadul ini. Koleksi sudah tujuh dan tinggal menambah lagi yang model super jadul,” tambah Janu. (*/aro/ce1)