MAGELANG – Masyarakat Kota Magelang antusias mengembangkan kebun organik. Salah satunya Kampung Karanggading RT 5 RW 4, Kelurahan Rejowinangun Selatan, Kecamatan Magelang Selatan ini. Sudah setahun aktif membudidayakan kebun organik hingga merambah ke perikanan.
Ketua kelompok pengurus kebun organik Supriyatiningsih, 55, menjelaskan awal mula kebun organik di kampungnya. Dulu merupakan tanah tandus, kering dan banyak batu-batu kecil yang kemudian diubah menjadi kebun organik dengan biaya swadaya 8 warganya.
“Warga yang punya tanaman juga dibawa ke ke sini, dan kami bangun bersama. Sekarang tanah ini jadi tanah subur yang bisa ditanami apa saja,” katanya.
Perempuan yang intim disapa Ning ini mengaku, Kamto adalah penggagasnya. Setelah mengikuti studi banding ke Surabaya beberapa waktu lalu, saat pulang langsung menggerakkan ibu-ibu untuk membuat kebun organik itu dan mempraktikkan apa yang didapat.
“Tanah yang tidak ada satu hektare bisa menjadi sumber penghasilan. Di kampung kami, banyak pendatang dari luar kota yang menetap dan bekerja sebagai penjual bakso ataupun mi ayam. Mereka semua beli caisin, seledri dan sayuran di sini. Ada sayuran lain juga yang ditanam  seperti terong, brokoli, kangkung, cabai, pepaya, pisang, ketimun, tomat,” ujarnya.
 Hasil kebun itu dikembalikan lagi untuk membeli bibit yang baru, dan keuntungannya sebagian untuk membeli bibit ikan lele. “Ikan lele baru berkembang 4 bulan, dan sudah panen 2 kali,” katanya kepada Radar Kedu.
Kesulitan dalam perawatan adalah gangguan hama. Namun, pihaknya mendapat bantuan semprotan oleh Dinas Pertanian, Peternakan dan Perikanan (Dispeterikan). “Disamping itu, ada bantuan dari Pemkot Magelang sebesar Rp 3,1 juta per tahun,” imbuhnya.
Selain itu, Kamto juga menuturkan, ini bagian dari pemanfaatan lahan tak terpakai. “Ada lahan walaupun sedikit, jika bisa dimanfaatkan akan jauh lebih baik,” ujarnya. Selain rumahnya berdekatan dengan kebun organik milik RW setempat, Kamto setiap hari  merawat tanaman-tanaman itu.
Dalam kesempatan itu, Joko Prasetyo mengungkapkan, warga di kampung itu sangat inspiratif. Kegiatan seperti itu bisa bertujuan untuk pendidikan. Anak-anak sekolah akan didorong belajar di sini. Selain itu, meringankan kebutuhan rumah tangga. (mg4/lis)