Seorang Dosen MIPA Dapat Intimidasi

153

Kisruh Pemilihan Rektor Unnes

BARUSARI – Pendalaman terhadap laporan dugaan pemalsuan substansi surat pernyataan dengan terlapor salah satu calon rektor Unnes, Prof Dr Supriadi Rustad MSi terus dilakukan oleh aparat Polrestabes Semarang. Salah satu upaya yang ditempuh oleh penyidik adalah dengan mencari kepastian terkait kepalsuan surat pernyataan seperti yang dilaporkan oleh tiga anggota Badan Pekerja Senat Unnes, yakni Prof Dr Achmad Slamet MSi; Prof Dr Rustono, MHum dan Drs Salehatul Mustofa, MA, serta Rektor Unnes yang masih menjabat Prof Fathur Rochman, MHum, Senin (23/6) lalu.
Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Djihartono mengatakan, pihaknya akan menurunkan Tim Laboratorium Forensik (Labfor). Hal itu dilakukan guna memastikan apakah dokumen surat pernyataan yang dibuat oleh terlapor (Prof Supriadi, Red) tersebut asli atau palsu. Selain itu, pihaknya juga akan memanggil saksi-saksi guna dimintai keterangan terkait dugaan pemalsuan tersebut.
”Dokumen akan kami serahkan ke labfor untuk dilihat asli apa palsu. Saksi-saksi juga kami panggil untuk dimintai keterangan. Pihak Diknas juga akan kami mintai keterangan. Setelah itu baru pihak terlapor,” ungkapnya.
Adapun dokumen surat pernyataan tersebut dibuat oleh Supriadi Rustad guna melengkapi persyaratan untuk menjadi calon rektor.
Kasat Reskrim Polrestabes Semarang AKBP Wika Hardianto menambahkan, saksi ahli juga akan dilibatkan dalam penyelidikan kasus tersebut. Dituturkannya, saksi ahli tersebut guna menafsirkan dan menjabarkan syarat atau ketentuan, serta aturan pencalonan sebagai rektor. ”Dosen aktif juga akan kami mintai keterangan. Itu kami lakukan agar informasi yang didapatkan lebih jelas,” katanya.
Sementara itu, tensi pemilihan Rektor Unnes semakin memanas. Sebab, tersiar kabar adanya dugaan intimidasi dan ancaman terhadap salah seorang dosen di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengatahuan Alam (MIPA) terkait pemilihan rektor. Bentuk intimidasi tersebut berupa ancaman pemecatan apabila dosen yang bersangkutan memilih Prof Supriadi sebagai Rektor Unnes selanjutnya.

Namun penelusuran yang dilakukan oleh koran ini belum menemukan adanya indikasi ancaman tersebut. Hal itu seperti yang disampaikan oleh Dekan Fakultas MIPA Unnes, Prof Dr Wiyanto MSi. Saat dikonfirmasi terkait kabar intimidasi tersebut, Wiyanto mengaku belum mengetahuinya.
”Saya belum dengar soal intimidasi ke dosen saya di MIPA. Nanti coba saya cari tahu dulu kebenarannya,” ujar Wiyanto, Kamis (26/6) siang.


Wiyanto memaparkan Prof Supriadi sendiri masih aktif mengajar. Tercatat pada semester genap di tahun ajaran 2013/2014, yang bersangkutan mengajar di Pascasarjana Unnes. ”Mengajar tiga SKS di Pascasarjana. Jadi masih aktif,” papar Wiyanto yang merupakan satu dari total 72 anggota senat Unnes.
Pihaknya juga sedikit menyangsikan pelaporan yang dilakukan oleh tiga anggota Badan Pekerja Senat Unnes. Sebab, pihaknya juga belum mengetahui apakah pelaporan tersebut telah juga disetujui oleh anggota Badan Pekerja lainnya.
Untuk diketahui, jumlah anggota Badan Pekerja Senat Unnes sendiri terdiri atas sembilan orang. ”Saya juga belum tahu apakah pelaporan yang dilakukan oleh tiga anggota Badan Pekerja Senat yang merupakan pembantu senat universitas dalam melaksanakan pemilihan rektor itu juga diketahui oleh enam anggota lainnya,” jelasnya.
Saat disinggung mengenai suasana di Senat Unnes sendiri, pihaknya mengaku tidak tampak bersitegang, meski dalam proses penetapan calon rektor sempat terbelah ke dua calon terkuat, yakni 37 anggota memilih Prof Supriadi dan 30 anggota memilih Prof Fathur. Sedangkan anggota lainnya memilih satu calon lain.
”Sebenarnya kan ada 72 anggota senat, tapi waktu pemilihan bakal calon ke calon rektor hanya 69 yang hadir. Dua sakit dan satu ke luar negeri. Suara yang hadir memang merujuk ke dua calon terkuat,” katanya.
Pernyataan berbeda keluar dari salah seorang anggota Badan Pekerja Senat Unnes, Prof Rustono. Menurutnya, Prof Supriadi bukanlah dosen PNS aktif seperti yang tertera dalam surat penyataan yang dibuat oleh Prof Supriadi. Pasalnya, Prof Supriadi dinilai tidak aktif melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi dan sedang dibebaskan sementara dari jabatan fungsional. Dengan begitu, dia tidak memenui syarat sebagai calon rektor. ”Kami masih menunggu keputusan dari Mendikbud. Kalau memang tidak memenui syarat, maka senat akan segera melakukan rapat untuk membahasnya lebih lanjut,” ujarnya.
Terpisah, Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa Unnes, Prasetyo Listiaji, mendesak agar para calon rektor yang telah ditetapkan untuk melakukan reorientasi. Hal itu terkait pencalonan para kandidat untuk menjadi rektor Unnes periode 2014-2018. Menurutnya, pemilihan rektor bukanlah kompetisi politik praktis, tetapi lebih pada pengabdian terhadap negara dan almamater.
”Kami meminta kepada para calon untuk tidak menaruh kepentingan pribadi dengan menduduki jabatan rektor. Jabatan itu adalah bentuk pengabdian bukan kekuasaan. Jadi, para calon harus meluruskan niatnya,” ujarnya mewakili aspirasi mahasiswa.
Prasetyo juga meminta agar senat universitas bertindak tegas terhadap calon yang kedapatan melanggar etika akademik. Ia juga mengajak semua elemen masyarakat kampus untuk mengawal pemilihan rektor tersebut. ”Kami harap semua elemen di kampus mengawal pemilihan ini hingga tuntas. Tujuannya tak lebih untuk mendapatkan pemimpin yang mampu membawa Unnes lebih baik lagi,” harapnya. (har/jpnn/aro/ce1)