SEKARAN – Sebanyak 14 mahasiswa asing program Darmasiswa, Rabu (25/6) lalu, unjuk gigi. Mereka menari Golek Manis di depan Auditorium Universitas Negeri Semarang (Unnes). Para bule dan mahasiswa dari sejumlah negara di Asia itu menari penuh penghayatan. Pentas tari tradisional itu dilakukan sebagai ’salam perpisahan’ karena masa studi mereka di Unnes sudah selesai.
Ke-14 mahasiswa asing tersebut tampak lemah gemulai saat membawakan tarian yang selama ini diajarkan oleh Malarsih, salah satu dosen Jurusan Sendratasik (Seni, Drama, Tari dan Musik) Unnes. Mereka adalah Amin Batoory dari Afganistan, Peter Kovacs dari Hongaria, Muhammadiffat Pathan dari Thailand, Angela dari Amerika, Arunarsirakul Wu Manli dari Tiongkok, Zhou Hailan dari Tiongkok, dan Krisztina Hoppal dari Hongaria.
Selain itu, Helen June Frances Edmund dari Inggris, Tachizaki Asuka dari Jepang, Birute Steponenaite dari Lithuania, Kamila Bruczynska dari Polandia, Guida Maria Gomes Carvalho dari Portugal, Nattaporn Kwanthong dari Thailand, serta Mong Ly Thu dari Vietnam.
Saat menari, beberapa dari mereka sesekali melempar senyuman kepada pengunjung yang memadati tempat itu. 
Saat ditemui usai acara, Helen June Frances Edmund asal Inggris mengaku sangat mencintai budaya Indonesia. Menurutnya, budaya Indonesia memiliki keunikan tersendiri jika dibandingkan dengan budaya negara lain.
”Sejak saya tiba dan mengenal Indonesia, saya mulai milihat keragaman budaya yang begitu indah. Rasanya sangat sayang jika hanya sebentar di Indonesia,” kata Helen.
Rektor Unnes Fathur Rokhman menyampaikan apresiasi kepada mahasiswa darmasiswa yang telah belajar di Unnes sampai selesai. Fathur mengatakan, jumlah mahasiswa darmasiswa di Unnes 22 mahasiswa. Delapan mahasiswa sudah menyelesaikan dengan program 6 bulan, dan 14 mahasiswa ini yang  mengikuti satu tahun.
”Pertama kali mereka menginjakkan kaki di Indonesia khususnya di Unnes pasti tidak kerasan karena belum paham tentang Indonesia apalagi mengucapkan ’sugeng enjing’ seperti tadi (menirukan Angela salah satu mahasiswa darmasiswa). Tapi, setelah itu, mereka sangat menyukai budaya Indonesia,” kata Fathur.
Koordinator program mahasiswa darmasiswa Unnes, Yusro Edy Nugroho, mengatakan, Closing Ceremony dan Pameran Darmasiswa itu merupakan kegiatan rutin bagian akhir dari program darmasiswa Unnes. ”Setelah belajar 1 tahun mereka kami minta untuk men-disply, memamerkan apa yang telah mereka kerjakan, hasilnya seperti ini. Berupa batik, ukiran, keramik, tarian, majalah dinding, hasil bahasa Indonesia dan semuanya  itu sebagai wujud dari produk yang mereka buat. Ini agar menjadi pemicu bagi orang-orang Indonesia juga untuk mencintai budayanya sendiri,” ujar Yusro. (mg1/aro/ce1)