Mangkrak 4 Tahun, Bendungan Simbang Dibiayai APBN Rp 15,2 M

BENDUNGAN Simbang di Desa Langkap, Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan yang rusak dan jebol pada akhir 2010 lalu, telah menyebabkan tanah sawah seluas 650 hektare di Kecamatan Kedungwuni dan Kecamatan Karangdadap, Kabupaten Pekalongan mangkrak. Bersyukur, kini pemerintah melakukan pendampingan dan pemberdayaan lagi.

PARA petani yang tersebar di beberapa desa di sekitar Bendung Simbang, merasa bahagia. Mereka adalah petani di Desa Langkap, Pakisputih, Pajomblangan, Salak Brojo, Proto, Kwayangan, Kecamatan Kedungwuni, dan Desa Karangdadap, Lohgandeng, Jrebeng Kembang, Kebun Rowopucang, dan Kebon Sari, Kecamatan Karangdadap Kabupaten Pekalongan.
Ini karena, Bendungan Simbang dibangun lebih baik dari sebelumnya sejak 21 Maret 2014 lalu. Dengan lebar bendungan 49 meter, lebih lebar dari sebelumnya yang hanya 27 meter. Diperkirakan mampu mengaliri 650 hektare sawah, dengan debit air 950 meter kubik per detik. Sedangkan sebelumnya hanya 100 meter kubik per detik.
Rasmuji, 48, warga Desa Pajomblangan RT 04 RW 02, Kecamatan Kedungwuni, mengungkapkan bahwa sejak Bendungan Simbang jebol karena banjir bandang dan tidak pernah diperbaiki, sawah di sepanjang Sungai Welong mangkrak dan tidak bisa ditanami padi.
Sebab, kalaupun bisa ditanami memerlukan biaya sangat besar, karena harus membeli atau menyewa pompa air. ”Sekarang, dengan adanya pembangunan Bendungan Simbang, air yang berada di Sungai Welong tak perlu disedot dengan pompa, karena debit airnya besar,” ungkap Rasmuji.
Kepala Desa Langkap, Kecamatan Kedungwuni, Moh Jamil, Kamis (26/6) siang kemarin, mengatakan bahwa dengan adanya pembangunan Bendungan Simbang, harga sawah di Desa Langkap naik menjadi 150 persen. Semula harganya hanya Rp 75 ribu per meter, kini menjadi Rp 300 ribu hingga Rp 400 ribu per meter. “Ini karena dampak, dari sawah yang semula mangkrak, menjadi tanah subur kembali dan bisa dialiri air dari Sungai Welong,” tuturnya.
Bahkan, tuturnya, adanya pembangunan Bendungan Simbang, para pemilik sawah tidak lagi tertarik menawarkan sawahnya untuk dijual. Mereka merasa yakin, jika pembangunan Bendungan Simbang selesai, sawahnya akan kembali subur. “Sebelumnya dijual Rp 75 ribu per meter, tidak ada yang beli. Kini, ditawar Rp 300 ribu per meter, tapi petani sudah tidak mau menjual sawahnya,” ungkap Moh Jamil.
Sementara itu, Kepala Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air, Energi dan Sumber Daya Mineral (PSDA ESDM), Kabupaten Pekalongan, Bambang Pramukanto, menjelaskan bahwa rehabilitasi Bendung Simbang, akan mampu mengaliri sawah petani di Kecamatan Kedungwuni dan Karangdadap seluas 650 hektare. “Tanah sawah tersebut sebelumnya tidak produktif atau mangkrak. Kini mendapatkan dana rehabilitasi sebesar Rp 15,2 miliar dari APBN 2014. Pembangunan mulai dikerjakan Maret dan akan selesai 7 bulan kemudian,” jelas Bambang. (*/adv/ida)