Pulang Kampung, 36 PSK Tes Darah

105

KAJEN-Sehari sebelum lokalisasi di Dukuh Kebunsuwung, Desa Sidomukti, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Pekalongan ditutup, sebanyak 36 pekerja seks komersial (PSK) diwajibkan tes darah, Rabu (25/6) siang kemarin. Tes tersebut sengaja dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Pemkab Pekalongan, menjelang Ramadan dan Lebaran.
Ini karena para PSK yang sebagian besar berasal dari luar Kabupaten Pekalongan, akan melakukan pulang kampung hingga 12 hari usai Lebaran. Sedangkan, Pemkab Pekalongan, melarang semua kegiatan hiburan malam, selama ibadah puasa Ramadan.
Bunga, 26, salah satu PSK di lokalisasi Dukuh Kebunsuwung mengungkapkan bahwa setiap bulan, selalu rutin melakukan tes sampel darah. Justru, jika dirinya tidak melakukan tes darah, dirinya merasa was-was. Mengingat banyak tamunya yang nakal dan tidak mau menggunakan kondom.
”Saya terkadang khawatir. Makanya selalu melakukan tes darah. Terkadang saya melakukan sendiri di RSUD Kraton, tidak menunggu petugas kesehatan datang,” kata Desa Sigugur, Kecamatan Kandangserang, Kabupaten Pekalongan ini.
Demikian juga dengan mawar, 31, warga Desa/Kecamatan Bandar, Kabupaten Pemalang. Sejak ditinggal suaminya pergi dua tahun lalu, dia mengaku menjalani profesi sebagai PSK, untuk menghidupi 3 anaknya. Menurutnya, bekerja sebagai PSK adalah pilihan terakhir, karena sulitnya mencari pekerjaan. ”Kalau tes darah sudah rutin saya lakukan. Kalau ada pekerjaan lain, saya ingin berhenti, saya takut kalau tertular HIV/AIDS,” ujar Mawar.
Kasie Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit, Dinkes Kabupaten Pekalongan, Suwondo, menjelaskan bahwa pengambilan sampel darah pada PSK yang berada di Lokalisasi Kebunsuwung dan warung remang-remang di sepanjang jalan raya pantura. Pihaknya melakukan rutin setiap sebulan sekali. Namun, khusus bulan Juni ini, dilakukan lebih awal, karena para PSK akan pulang kampung.
”Dulu Dinkes susah ketika hendak melakukan pengambilan sampel darah. Sekarang justru para PSK dan penjaga warung remang-remang, yang minta darahnya diambil untuk mengetahui kesehatan mereka,” jelas Suwondo.
Sementara itu, Bupati Pekalongan, Amat Antono, menegaskan bahwa penderita HIV/AIDS adalah penyakit sederhana. Tidak mungkin menular, jika masyarakatnya tidak neko-neko atau hidup sesuai dengan anjuran agama dan setia dengan pasangannya masing-masing. ”Penyakit HIV/AIDS ini, tidak akan menular ke yang lain, jika masyarakatnya tidak neko-neko,” tegas Amat Antono. (thd/ida)