Pembakaran Tradisional, Masih Sama 50 Tahun Lalu

150

Kerajinan Gerabah Desa Wonorejo Butuh Perhatian Pemerintah

Sebanyak 70-an warga perajin gerabah dari tanah liat di Desa Wonorejo, Kecamatan Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan, membutuhkan pendampingan dari Pemkab Pekalongan. Perajin gerabah di Desa Wonorejo tersebut, masih minim pengetahuan tentang gerabah serta minim generasi penerus. Seperti apa?

TAUFIK HIDAYAT, Kajen

SEBAGIAN besar perajin gerabah Desa Wonorejo, Kecamatan Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan, sudah berusia di atas 50 tahun. Mereka kini, tidak lagi mampu berproduksi secara maksimal. Apalagi mengikuti tren bisnis yang semakin kompetitif dengan perkembangan teknologi.
Sekretaris Desa Wonorejo, Wakhunudin, mengungkapkan bahwa pengelolaan pembuatan gerabah di Desa Wonorejo, mulai dari produksi hingga pembakaran, masih sangat tradisional, sama seperti pembuatan 50 tahun yang lalu.
”Hampir tidak ada generasi muda di Desa Wonorejo, yang berminat untuk menjadi perajin gerabah. Karena itulah, jika Pemkab Pekalongan berniat mengembangkan kerajinan gerabah menjadi potensi ekonomi sama seperti batik, perlu adanya pendampingan yang serius dan berkelanjutan,” ungkap Wakhunudin dalam pertemuan antara perajin gerabah dengan Pemkab Pekalongan dan Dewan Kerajinan Daerah (Dekranasda) di Desa Wonorejo, Selasa (24/6) siang kemarin.
Demikian halnya dengan Ketua Paguyuban Gerabah Desa Wonorejo, Wahyono. Bahwa sejak tahun 1992 hingga tahun 2012, para perajin gerabah sudah sering melakukan study banding, baik ke Kabupaten Banjarnegara, Jogjakarta hingga ke Pulau Bali. Namun hasil study banding tersebut, kurang memberi manfaat, karena waktu belajar dengan ahli kerajinan setempat, sangat minim. Sehingga ilmu yang diserap pun sedikit.
”Kalau pasar untuk gerabah di Desa Wonorejo, sudah ada yang menerima. Namun kami butuh belajar, bagaimana proses pembakaran biar cepat. Bagaimana produk gerabah yang kita buat, bisa dijual dengan harga bagus, seperti kerajinan serupa di Jogjakarta dan Bali,” kata Wahyono.
Karena itulah, kata Humas Dewan Kerajinan Daerah (Dekranasda), Kabupaten Pekalonga, Isdalifah, Dekrasnasda akan terus mendampingi perajin gerabah di Desa Wonorejo. Pihaknya berjanji akan sering mengikutkan para perajin ke pameran kerajinan di beberapa kota di Indonesia.
”Dekranasda juga akan mendampingi terus, agar Pemkab tidak sekadar mendampingi sekadarnya. Artinya, jangan sampai hari ini dikunjungi, besok sudah dilupakan,” tandas Isdalifah.
Sementara itu, Kabag Perekonomian, Setda Kabupaten Pekalongan, Abdul Baehaqi, menegaskan bahwa Pemkab Pekalongan melalui Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi UMKM, telah melakukan pendampingan pada perajin gerabah di Desa Wonorejo. Hanya saja, kendalanya dalam pengembangan gerabah di Desa Wonorejo, tidak adanya alih generasi. Dan pembuatan gerabah hanya sebatas menjadi pekerjaan sampingan, bukan pekerjaan utama.
”Dari hasil pertemuan ini, kami akan mengadakan kajian dan evaluasi, tentang kegiatan apa yang tepat untuk perajin gerabah di Desa Wonorejo,” tuturnya.
Di pun mengungkapkan bahwa dari 1500-an perajin pada tahun 90-an, kini hanya 70 orang tercatat sebagai perajin. Namun, hanya 12 perajin saja yang aktif. Itu artinya, hanya 3 ribu kerajinan gerabah yang dihasilkan dalam sebulan, dengan nilai ekonomi yang sangat minim.
“Jika tidak ada pendampingan, dan tidak ada komitmen dari perajin gerabah untuk maju, maka kerajinan gerabah di Desa Wonorejo akan punah,” tegas Abdul Baehaqi. (*/adv/ida)