Mengikuti Lomba Penanganan Bencana Tanah Longsor Gunung Menoreh

Tim Siaga Bencana (TSB) Menoreh-Selorejo mengadakan lomba pertolongan pertama gawat darurat (PPGD) di lereng perbukitan Menoreh. Tujuannya tentu untuk memberikan bekal kepada warga dalam menghadapi situasi bahaya seperti apa ?
 
MUKHTAR LUTFI, Mungkid
 
SUARA kentongan mengalun dengan tempo cepat. Tanda adanya bencana yang sedang melanda Selorejo Kecamatan Salaman Kabupaten Magelang. Tanah longsor.           
Semua warga panik. Sebuah rumah tertimpa reruntuhan. Banyak korban berjatuhan. ”Ayo segera menyingkir, tidak perlu bawa barang-barang,” kata salah seorang warga.
Rumah di sekitar perbukitan Menoreh yang longsor diminta dikosongkan. Karena longsor susulan masih berpotensi tejadi. Warga yang terjebak di dalam rumah untuk sementara ditinggalkan.            
Korban cedera mendapatkan prioritas utama selain anak-anak dan orang tua. Ada yang menggunakan tandu dari kayu dan sarung ada juga yang hanya dibopong. ”Kita harus sesuai protap, selamatkan yang masih bisa diselamatkan. Jangan mencari korban tertimbun,” kata warga lainnya.
Suasana makin mencekam karena kejadian itu berlangsung malam hari. Listrik padam. Hanya ada beberapa lampu penerang dari senter dan obor.   Peristiwa itu tidak benar-benar terjadi. Hanya sebuah simulasi yang digelar oleh TSB Menoreh Selorejo dalam rangka mengantisipasi bencana alam. Kali ini simulasi itu dilombakan.           
Ada tujuh kelompok dimana satu kelompok terdiri dari tujuh orang. Sistem kejadian sama hanya penilaiannya berdasarkan kewaspadaan dan ketepatan melakukan penolongan pertama kepada korban tanah longsor.           
Peserta lomba merupakan warga Selorejo yang terancam longsor perbukitan Menoreh. Tahun lalu di desa itu juga terjadi bencana longsor menimpa satu rumah.
Koordinator TSB Menoreh-Selorejo Soim mengatakan materi lomba adalah bahaya longsor dan pencegahannya disertai simulasi kejadian bencana beserta upaya pertolongan pertama gawat darurat korban tanah lonsor. Hal ini dinilai penting mengingat warga Menoreh hidup di kawasan rawan longsor.
Lomba PPGD ini sekaligus dimaksudkan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang ancaman lonsor lereng Menoreh dan cara bersosialisasi terhadap warga masyarakat serta PPGD.
Lomba dan simulasi kejadian bencana longsor digelar mulai pukul 19.00-01.00 dini hari di Dusun Selorejo. “Ini sebagai bentuk sosialisasi untuk membangun kebersamaan dan tetap melestarikan lingkungan di kawasan lereng Menoreh,” kata dia.           
Pihaknya sengaja menggelar kegiatan pada malam hari mengingat data statistik kejadian tanah longsor mayoritas terjadi di malam hari. Dengan kondisi gelap dan penerangan minim maka dituntut kejelian dan ketengan untuk menghadapi masalah.           
Acara ini dihadiri puluhan komunitas tim siaga di kawasan Merapi serta BPBD Kabupaten Magelang, Walhi Jogjakarta, jajaran muspika Kecamatan Salaman dan ratusan warga di lereng Menoreh.
Lomba dimenangkan kelompok Maut yang diketuai Pujo. Kebetulan Pujo pernah menjadi korban longsor yang rumahnya rata dengan tanah. ”Ya karena saya pernah mengalami jadi tahu betul situasi tanah longsor saat malam hari,” kata dia.
Dari kegiatan itu, dia mengaku semakin tahu protap penyelamatan korban tanah longsor. ”Menyelamatkan yang mungkin bisa diselamatkan. Meninggalkan yang tak mungkin diselamatkan supaya tidak timbul korban lain,” kata dia. (*/lis)