MUNGKID– Batik Magelang dinilai masih kalah bersaing dengan wilayah lain. Selain karena masih mahal waktu pembuatan juga masih lebih lama.
”Untuk membuat satu lembar kain batik hingga tiga hari. Sedangkan di daerah lain, misalnya di Pekalongan, sehari bisa menyelesaikan tiga lembar kain batik,” kata Wakil Bupati Magelang, HM Zaenal Arifin, Usai menyaksikan pengukuhan pengurus Paguyuban Batik Kabupaten Magelang oleh Ketua Dekranasda Tanti Zaenal Arifin di pendopo rumah dinas bupati, kemarin.       
Selain itu, kata dia biaya produksi perlembar sangat mahal. Untuk satu kain bisa mencapai Rp 50 ribu, ditambah reward produksi batik Rp 20.000/lembar, atau Rp 60.000/hari. “Ini juga yang membuat batik Magelang masih relatif mahal dan menjadi salah satu kendala pemasaran. Karena itu biaya produksi perlu ditekan,” tambah Kepala Dinas Perindustrian Koperasi dan UMKM Kabupaten Magelang, Edy Susanto.     
Pengurus paguyuban yang dilantik hari itu, Samsudin dan Jack Priyana (penasehat), Bambang Edi Supriyono (ketua I), Nuryanto (ketua II), A Adi Winarto (sekretaris I), Muhtasor (sekretaris II), Hayatini Siwiningrum (bendahara I) dan Tri Hapsari IS (bendahara II), Andre Yudo PA (produksi) dan Sumarsih (pemasaran).
“Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) hendaknya melakukan pembinaan dalam rangka pemberdayaan potensi sumber daya alam dan manusia, khususnya perajin sebagai pelaku utama,” kata Bupati Zaenal Arifin.
Untuk itu bersinergi dengan SKPD terkait, sehingga SKPD yang berhubungan dengan pendidikan, pelatihan dan kegiatan promosi dan pemasaran, dapat memasukkan misi Peguyuban Batik dan misi Dekranasda di dalamnya.
Ketua Dekranasda Kabupaten Magelang, Tanti Zaenal Arifin mengatakan beberapa kelemahan pelaku UMKM yang perlu diperbaiki bersama, antara lain tingkat produktivitas tenaga kerja masih rendah, terbatasnya desain produk dan inovasi, serta masih rendahnya kesadaran dalam hal legalisasi serta sertifikasi produk. Hadir Ketua Paguyuban Pecinta Batik Sekarjagad, Larasati Suliantoro. (vie/lis)