Ancam Buka Paksa Jalan Moh Yamin

120

UNGARAN – Warga Kelurahan Bandarjo, Ungaran Barat, mengeluh ditutupnya persimpangan Jalan Moh Yamin Ungaran semenjak adanya proyek peningkatan Jalan Banyumanik-Bawen. Sebab, penutupan jalan yang dilakukan selama kurang lebih sembilan bulan tersebut menyebabkan terganggunya jalur transportasi warga. Akibatnya, aktivitas perekonomian terganggu, sehingga banyak warung makan dan toko serta bengkel tutup karena sepi pengunjung.
Warga meminta Pemerintah Kabupaten Semarang membantu memfasilitasi agar jalan tersebut dibuka kembali. Bila sampai akhir bulan ini tidak dibuka, maka ratusan warga akan membuka paksa barier permanen yang dipasang di ujung Jalan Moh Yamin atau perempatan Asalamah.
Menurut koordinator warga Bandarjo, Maryanto, 53, warga Lingkungan Pungkruksari RT 2 RW 1, Kelurahan Bandarjo, Kecamatan Ungaran Barat, sebenarnya warga tidak menolak adanya pembangunan Jalan Banyumanik-Bawen. Namun setelah jalan selesai dibangun, warga berharap agar jalan akses menuju ke Jalan Moh Yamin dibuka. Tetapi yang terjadi akses jalan tepatnya di perempatan Asalamah ditutup. Sehingga akses transportasi warga terganggu. Parahnya lagi, sejumlah tempat usaha banyak yang tutup karena merugi akibat jalan tersebut tidak
“Ujung jalan Moh Yamin diperempatan Asalamah ditutup, sehingga tidak bisa dilalui di akibatnya menjadi jalan mati. Kondisi itu menyebabkan aktivitas warga terganggu, bahkan banyak warung yang tutup akibat ditutupnya jalan tersebut,” tutur Maryanto, Rabu (25/6) kemarin.
Maryanto mengatakan, warga sudah mengadakan pertemuan membahas permasalahan tersebut. Hasil keputusan pengurus RT dan RW serta sejumlah warga, meminta Bupati Semarang turun tangan untuk dapat memfasilitas membuka jalan tersebut. Warga juga sepakat, jika sampai akhir Juni ini tidak dibuka, maka akan dibuka paksa oleh warga.
“Kita akan menggalang tandatangan dan mengirim surat kepada bupati. Kalau sampai akhir bulan ini tidak dibuka, maka kami akan membuka paksa. Karena jika berlarut-larut, warga akan menderita. Sebab, sejumlah tempat usaha tutup karena sepi pembeli setelah jalan ditutup,” kata Maryanto yang memilih menutup toko parfumnya.
Menurut Maryanto, pihaknya sempat menanyakan terkait penutupan jalan. Janjinya setelah jalan selesai dicor akan segera dibuka. Ketika ditanyakan lagi alasannya traffic light (TL) belum dipasang sehingga jalan tidak bisa dibuka, karena membahayakan.
“Waktu kita tanyakan, hanya dijanjikan saja untuk dibuka. Tetapi tidak juga dibuka, katanya setelah tahun baru. Lalu alasan lagi lampu TL-nya belum di pasang jadi membahayakan. Padahal lampu TL di situ juga sering mati dan tidak ada masalah lalulintas pun tetap lancar,” ujar Maryanto.
Hal senada dikatakan pemilik warung soto Sokaraja di Jalan Moh Yamin, Nanik, 62. Sejak jalan tersebut ditutup, omzet warung makan miliknya turun 50 persen. Nanik pun kelimpungan harus mencari utang untuk menutup biaya operasionalnya.
“Saya jengkel Mas, karena terlalu lama ditutupnya. Sejak jalan ini ditutup omzet kita turun, 50 persen lebih. Sebab, tidak bisa untuk lalulintas kendaraan, karena kalau mau ke sini harus muter-muter baru bisa sampai sini. Kalau sepi terus bisa tutup. Sebab, kita butuh biaya untuk makan, bayar karyawan dan biaya lain-lainnya. Terpaksa kita harus utang untuk memenuhinya,” ungkap Nanik.
Anggota Fraksi PDIP DPRD Kabupaten Semarang, The Hok Hiong mengatakan, semestinya diprioritaskan untuk diselesaikan. Sebab, jika tidak diselesaikan akan menganggu pengguna jalan dan perekonomian. Pasalnya jalan yang ditutup itu menjadi sepi. “Semestinya pemerintah provinsi segera menegur kontraktor untuk menyelesaikan. Sebab, sudah 8 bulan lebih ditutup dan mengganggu aktivitas dan perekonomian masyarakat. Itu harus menjadi prioritas karena mengganggu lalulintas dan perekonomian,” tuturnya. (tyo/aro)