Sulit Tentukan Harga, Batalkan Order Ratusan Juta

124

Kondisi Perajin Batik Terpuruk, Bahan Baku Naik Tak Terkendali

Menjelang puasa dan Lebaran 2014, Permintaan batik menunjukkan kenaikan. Namun beberapa harga bahan baku pembuatan batik, seperti kain dan obat, sudah naik sejak dua bulan lalu. Para perajin kecewa.

RAUFIK HIDAYAT, Pekalongan

KENAIKAN harga bahan baku batik benar-benar membuat bingung para perajin. Sejak dua bulan lalu, harga bahan baku kain dan obat untuk membatik sudah naik 20 persen, dengan alasan nilai tukar rupiah yang melemah atas dolar AS.
Saking kecewanya, Abdul Haris, pemilik kerajinan batik Haris Batik, membakar beberapa kain batik dan kerajinan batik lainnya. Di antaranya, kain selendang, kotak tisu batik hingga box batik.
Dia menengarai, pedagang kain dan obat batik sengaja menaikkan harga, dengan memanfaatkan momentum menjelang puasa dan Lebaran. “Saya kecewa, mengapa harga-harga ini tidak bisa dikendalikan,” kata warga Jalan Patriot Kelurahan Bandengan, Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan. Senin (23/6) siang kemarin.
Dia pun menceritakan bahwa dirinya mendapatkan order kerajinan batik senilai Rp 150 juta. Tapi bahan baku yang harus dia beli lebih dari Rp 200 juta. “Kalau seperti ini, mendingan order saya batalkan dan kerajinan batik saya bakar. Saya kecewa sekali dengan harga bakan baku yang terus naik tanpa bisa diprediksi,” ungkap Haris, di rumahnya.
Menurutnya, kenaikan harga bahan bakan baku batik berpedoman pada kelangkaan barang, sehingga harus impor. Tapi kenaikan harganya, benar-benar memukul para perajin batik di Kota Pekalongan.
Saat ini, perajin batik sudah dipusingkan dengan lesunya pasar, karena adanya Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 yang berdampak pula, pada kenaikan harga bahan baku, khususnya kain mori. Padahal ketika kenaikan harga BBM beberapa waktu lalu, perajin sudah menaikkan harga jual batiknya 15 persen.
“Sekarang kalau jual batik, tapi setiap hari harganya selalu naik, siapa yang mau beli batik?” kata Haris yang terpaksa meliburkan 57 karyawannya sejak dua minggu lalu.
Hal serupa dikatakan Sekretaris Paguyuban Batik Pantura, Muhsinin, 42, warga Kelurahan Pasirsari, Kecamatan Pekalongan Barat, Kota Pekalongan. Menurutnya, ada 114 perajin batik yang sudah gulung tikar dan beralih ke profesi lain, sejak 3 bulan lalu.
”Ada 114 perajin batik, baik pengusaha menengah maupun kecil yang menutup usaha batiknya. Penyebabnya mulai lesunya pasar batik dan harga bahan baku yang naik,” kata Muhsinin yang sekarang berprofesi sebagai buruh batik, meski sebelumnya seorang pengusaha batik.
Sementara itu, Kepala Kelurahan Pasirsari, Kecamatan Pekalongan Barat, Maryoto, membenarkan jika banyak pengusaha batik yang menghentikan produksinya. Namun pihaknya tidak bisa menyebutkan angka pasti, mengingat setiap hari ada laporan warganya yang diberhentikan dari buruh batik oleh juragannya.
”Yang jelas lebih dari 100 perajin batik berhenti produksi. Terutama sejak adanya banjir rob. Apalagi adanya kenaikan harga bahan baku yang mencapai 20 persen lebih,” jelas Maryoto.
Menanggapi hal itu, Kabag Perekonomian, Setda Pemkot Pekalongan, Susilo menandaskan, bahwa Pemkot tidak dapat berbuat banyak dengan naiknya harga bahan baku batik yang hampir 60 persen, karena barang tersebut masih impor.
”Pemkot hanya bisa membantu memasarkan atau mempromosikan usaha perajin batik. Namun kalau naiknya bahan baku karena barang impor, itu pemerintah pusat yang bisa membantu menyelesaikan,” kata Susilo. (*/ida)