MAGELANG – Polres Magelang menangkap warga Kampung Sempolon, Kelurahan Kemirirejo karena diduga memperlihatkan gambar video porno kepada anak-anak di bawah umur. Tersangka adalah seorang pedagang makanan minuman bernama Sabar Supono, 64.
Ia dilaporkan oleh guru bimbingan konseling (BK) SMP Pantekosta kepada Polres Magelang karena dianggap merusak moral murid-muridnya yang masih di bawah umur dengan mempertontonkan video porno.
Kapolres Magelang Kota AKBP Tommy A Dwianto melalui Kasubag Humas AKP Esti Wardiani menuturkan, penangkapan Sabar dua pekan lalu merupakan tindak lanjut dari laporan guru BK SMP Pantekosta.
“Guru BK itu melaporkan kepada kami setelah menerima laporan dari peserta didiknya jika ada seorang pedagang yang sering mempertontonkan video porno. Kamipun menindaklanjuti laporan tersebut,” katanya (24/6) kemarin.
Esti menambahkan, kakek-kakek yang sehari-hari berjualan minuman dan makanan itu dijerat pasal 37 Jo 32 UU RI No 44 Tahun 2008 tentang menyimpan, mempertontonkan, dan mengedarkan pornografi dengan ancaman hukuman di bawah lima tahun.
“GD dan KR adalah dua siswa yang menjadi korban. Mereka mengaku diberi tontonan video porno oleh pelaku dengan meminjamkan handphonenya ke anak-anak yang lain dengan tujuan agar menjadi pelanggan dagangannya,” ujarnya kepada Radar Kedu.
Esti menambahkan, berdasarkan pengakuan pelaku hal itu bentuk pelampiasan. Karena tersangka tidak bisa melakukan adegan seperti yang ada di video, sehingga lebih memilih mempertontonkan kepada orang lain khususnya anak sekolah. “Sabar mengaku, video porno itu didapat ketika dia membeli memory card (MMC) handphone bekas dari seseorang di Alun-alun Kota Magelang. Harganya hanya Rp 15.000 dan baru diketahui tiga bulan kemudian ada video-video porno di dalamnya,” paprnya.
Dari kejadian ini, Esti mengimbau kepada semua masyarakat, khususnya orang tua dan guru untuk meningkatkan pengawasan terhadap anak. Tidak hanya saat belajar namun saat bermain juga dan selalu memberikan bimbingan kepada anak, supaya selalu melakukan tindakan yang positif dan tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain.
“Penting sekali menanamkan nilai-nilai agama dan moral kepada anak, supaya terhindar dari hal-hal yang negatif. Semoga dengan kasus ini kita semua tahu, bahwa ancaman terbesar anak dari luar rumah dan sekolahan. Maka, harus meningkatkan pengawasan. Harapannya, tidak ada hal seperti ini terjadi lagi,” tandasnya (mg4/lis)