TEMANGGUNG—Jalur utama Temanggung menuju daerah lainnya di sebelah barat dan utara acapkali mengalami kemacetan panjang di kawasan Pasar Legi Parakan yang dibangun. Salah satu pemicunya adalah, banyaknya kendaraan umum yang parkir di tepi jalan karena tidak adanya terminal yang menjadi pusat pemberhentian.
Titik kemacetan terjadi tepatnya di pertigaan Karangsari, Parakan Kauman, tepat di depan pembangunan Pasar Legi Parakan. Pada titik tersebut, angkutan umum dari arah dan menuju Wonosobo bertumpuk di tepi kanan dan kiri jalan hingga memakan sebagian bahu jalan. Angkutan yang berhenti tersebut membuat kendaraan lain yang melalui jalur tersebut harus berhimpitan.
“Ada pasar darurat, tetapi tidak ada terminal darurat, jadi terpaksa harus ngetem di sini. Dari pada tidak ada penumpang mau bagaimana lagi,” kata Suryadi, 40, salah seorang awak angkutan umum.
Selain pada titik tersebut, titik kemacetan lainnya juga terjadi di pertigaan masuk pasar darurat (pertigaan PDAM). Pada titik tersebut, arus lalu lintas bertabrakan antara jalur keluar masuk pasar dengan jalur utama Parakan-Wonosobo. “Di sini juga banyak bus yang ngetem jadi jalannya semakin sempit,” imbuh Waluyo, 30, salah seorang pengguna jalan.
Ia mengatakan, dari dua titik kemacetan tersebut menyebabkan arus lalu lintas untuk memasuki Temanggung dari arah barat mengalami kemacetan yang cukup panjang. Padahal, sebagian dari jalur tersebut merupakan jalur satu arah. Rambu-rambu larangan untuk parkir juga terpampang dengan jelas di titik tersebut, namun banyak diabaikan. “Padahal banyak sekali kendaraan yang melintasi jalur ini,” katanya.
Kemacetan paling padat terjadi pada pagi dan sore hari dimana volume kendaraan yang melintasi wilayah ini terjadi peningkatan cukup tajam. Peningkatan volume kendaraan diperparah dengan banyaknya bus yang berhenti untuk menunggu kedatangan penumpang. “Padahal tidak cuma satu dua bus, tetapi kadang lebih dari empat,” imbuh Khalifardi, 28, warga sekitar. (zah/lis)