SEMARANG-Bank Indonesia (BI) memprediksi kebutuhan uang masyarakat Jateng-DIJ selama Ramadan dan Lebaran 2014 ini, tembus hingga Rp 16,2 triliuan. Jumlah tersebut lebih tinggi 18-19 persen, dibandingkan momentum yang sama tahun 2013 lalu.
Kepala BI Kantor Perwakilan Wilayah V Jateng dan DIJ, Sutikno mengungkapkan ini merupakan kategori siklus 3 tahunan. Yakni, puasa dan hari Lebaran jatuh pada akhir bulan, yang biasanya penarikan uang untuk membayar gaji karyawan juga tinggi. Namun kali ini juga bertepatan dengan pembayaran gaji ke-13 bagi PNS, libur tahun ajaran baru, pembayaran Tunjangan Hari Raya (THR). ”Kebutuhan uang pada puasa dan Lebaran tahun ini, sangat tinggi. Sedangkan tahun 2013 lalu, hanya naik 12 persen,” imbuh Kasir Senior BI Wilayah V, CT Wibowo, di Kafe Seven Degree, kemarin.
Deputi BI Kpw Wilayah V, Marlison Hakim menambahkan, terkait tingginya tingkat kebutuhan uang masyarakat, BI juga menjamin kelancaran distribusi uang dan kebutuhan masyarakat selama Ramadan- Lebaran. Bank Indonesia bahkan telah menginstruksikan kepada seluruh perbankan agar memastikan ATM dalam kondisi siap dan selalu terpantau agar tidak sampai mengalami kekosongan uang. “Kebetulan Jateng-DIJ menjadi daerah tujuan mudik, sehingga kami juga harus menjamin ketersediaan uang, termasuk di ATM,” imbuhnya.
Bank Indonesia, lanjutnya, siap melayani penukaran uang pecahan. Diprediksi, penukaran uang pada momentum tahun ini bisa mencapai Rp 500 miliar atau meningkat dari momentum sama di tahun lalu yang hanya Rp390 miliar.
“Bank Indonesia sudah menyiapkan pecahan uang-uang baru yang sudah bisa dilakukan penukaran, baik oleh masyarakat umum maupun instansi, tanpa ada batasan nilai,” tegasnya.
Ditambahkan, BI mengimbau kepada masyarakat agar melakukan penukaran uang di kantor BI, di lembaga perbankan termasuk BPR atau di counter eksternal. ”Kalau penukaran dilakukan di sembarang tempat, dikhawatirkan menjadi korban penyebaran yang palsu. Selain itu, penukaran di jalanan juga harganya lebih mahal,” imbaunya.
Sementara itu, terkait dengan pelaksanaan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 ini, diakui Marlison, tidak berpengaruh terhadap peredaran uang di Jateng. Berbeda saat pelaksanaan Pemilihan Legislatif (Pileg), peredaran uang lebih masif. ”Kalau pilpres ini, perputaran uang biasa saja,” katanya. (ida)