UNGARAN – Gara-gara parkir dan menutup pintu, dua ibu rumah tangga, Siti Wahyuni, 47, dan Maria Sri Rahayu, 45, keduanya warga Kelurahan Genuk, Ungaran, Kabupaten Semarang bertengkar. Kasus itupun berlanjut hingga di meja penyidik Polsekta Ungaran. Selasa (24/6) siang kemarin, keduanya dihadirkan untuk dikonfrontir di Mapolsekta Ungaran. 
Menurut Siti Wahyuni, warga Kenangasari, Genuk, Ungaran, melalui suaminya yang bekerja sebagai pengacara, Bambang Supriyadi, peristiwa tersebut terjadi pada 26 April 2014 sekitar pukul 08.30. Ketika itu, Siti akan menutup pintu pagar rumahnya. Kebetulan di depan pintu ada mobil milik Maria Sri Rahayu yang sedang parkir. Diduga tersinggung saat korban menutup pintu, Maria mendatangi korban dan memaki-maki dengan kata-kata kotor.    
“Kemungkinan pelaku tersinggung, karena istri saya (Siti) menutup pintu pagar. Kemudian pelaku masuk ke halaman rumah kami dan marah-marah. Dia memaki-maki istri saya dengan kata-kata kotor. Istri saya juga dituding kaya dari hasil jual narkoba dan miras. Waktu pelaku memaki-maki, di situ ada anak-anak saya,” jelas Bambang.
Selanjutnya kasus tersebut dilaporkan ke Mapolsekta Ungaran untuk diproses hukum. Pihak kepolisian sejak adanya laporan kemudian melakukan proses penyelidikan. Selasa (24/6) siang kemarin, keduanya dihadirkan untuk dikonfrontir, sebab dari keterangan keduanya bertolak belakang.
Kapolsekta Ungaran Kompol Sulistyo mengatakan, saat ini perkara tersebut masih dalam proses penyelidikan. Pihaknya sudah memintai keterangan saksi, dan rencananya akan memanggul ahli bahasa untuk dimintai penjelasannya. “Perkara penghinaan ini masih kita tangani. Saat ini baru ada satu alat bukti, yakni keterangan saksi-saksi dari keluarga dan tetangganya. Kami butuh minimal dua alat bukti, jadi kita akan panggil ahli bahasa,” tuturnya.
Maria Sri usai dikonfontir menolak untuk berbicara. Pengacara yang mendampingi Maria, Yosep Parera, justru mengatakan bahwa kliennya itulah yang justru dimaki-maki dengan kata-kata kotor lebih dulu. Tetapi, pihaknya tidak melaporkan ke polisi karena menilai pertengkaran seperti itu sudah biasa.
“Saat itu klien saya parkir mobil di depan rumah Bambang. Saat akan pergi malah dimarai oleh istri Bambang. Lalu klien saya pergi, tetapi Bambang keluar rumah dan menuding-nuding, klien saya. Sehingga klien saya balik lagi menemuinya dan mengatakan dasar kamu ini penjual minuman,” tuturnya.
Menurut Parera, laporan pencemaran nama baik yang diadukan pihak Bambang ke Polsekta Ungaran tidak berdasar. Sebab, tidak memenuhi unsur pencemaran nama baik. (tyo/aro)