KARANGREJO – Sebagai bangsa yang besar, Indonesia mempunyai berbagai macam suku, agama, budaya, dan bahasa yang terkadang bisa menjadi sumber konflik. Perbedaan seringkali membuat terjadinya dan perpecahan tidak bisa dihindari.
Untuk itu, beberapa seniman dan anak muda Kota Semarang berkumpul dan membahas sebuah tema tentang pluralitas dalam sebuah obrolan yang bertajuk “Aku Lala Padamu”dengan menghadirkan Presiden Jancukers Sujiwo Tejo, budayawan asal Pati Anis Sholeh Ba’asyin, dan tokoh Kota Semarang Budi Harjono, Minggu (22/6) malam, di Laresto Tungdeblang Semarang.
Dalam obrolan yang berlangsung ringan dan santai itu, dibahas buku terbaru Tejo yang berjudul Rahvayana dan pemaknaan perbedaan atau pluralitas. Mantan wartawan ini mengajak para pengunjung yang mayoritas remaja untuk berpikir dan menerima segala kekurangan dunia dan seisinya ataupun perbedaan yang ada. “Kita harus berpikir bagaimana manusia agar tidak memuja warna putih yang dianggap sebagai dewa dan lambang kesucian, padahal warna putih tidak akan indah jika tidak ada warna lain,” kata Tejo.
Menurutnya, warna putih juga memerlukan warna lain dalam kehidupan dan karya seni atau dalam hal ini diimplementasikan dalam kehidupan. “Contohnya dalam taman sari kehidupan, membutuhkan warna gelap sebagai pelindung seluruh warna yang ada,” katanya.
Festival Director Surau Budaya Nanda Goeltom mengatakan, acara tersebut bertujuan mengajak generasi muda untuk berpikir terbuka dan tidak berpikir sempit. “Kita harus bisa memaknai perbedaan. Contohnya saja masyarakat Semarang yang bisa hidup berdampingan dengan suku, ras dan agama lainnya. Jangan sampai pemikiran sempit kita atau sikap primodialisme dimanfaatkan orang lain untuk memecah belah persatuan bangsa Indonesia,” jelasnya.
Selain diskusi mengenai pluralitas, acara tersebut juga diisi dengan penampilan Absurdnation berkolaborasi dengan Tejo yang piawai meniup saksofon. (den/ton/ce1)