Pemkab Diminta Batasi PSK Pendatang Baru

122

UNGARAN – Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Semarang menilai kawasan prostitusi Kalinyamat, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang adalah kedua terbesar di Indonesia setelah lokalisasi Dolly Surabaya.Bahkan diprediksi setelah lebaran, jumlah pekerja seks komersial (PSK) akan bertambah banyak. KPA berharap Pemerintah Kabupaten Semarang melakukan pembatasan jumlah pekerja seks yang beroperasi di Bumi Serasi.
Divisi Program Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Semarang, Taufik Kurniawan mengatakan, jumlah PSK dan Pemandu Karaoke di Bandungan saat ini mencapai sekitar 700 orang. Jumlah tersebut belum termasuk PSK freelance yang hanya datang pada malam hari untuk beroperasi. Taufik sudah mendapatkan sinyal adanya peningkatkan jumlah PSK di Bandungan setelah lebaran. Sementara di sejumlah titik hot spot (rawan penyebaran HIV/AIDS) seperti Tegalpanas (Bergas) dan Sukosari Gembol (Bawen) cenderung stabil.
“Menjelang Ramadan hanya ada sekitar 235 pekerja seks. Jumlah PSK akan meningkat setelah lebaran, karena mereka akan membawa teman atau saudara untuk kerja di sini. Peningkatan itu salah satunya juga disebabkan ditutupnya Dolly. Sebab, PSK pasti akan mencari lokasi yang aman untuk beroperasi,” tutur Taufik, Senin (23/6) siang.
Taufik berharap, pemerintah harus segera turun tangan untuk membatasi para PSK pendatang baru. Sebab, saat ini hanya mendata saja, itupun belum seluruhnya karena ada juga PSK freelance yang lolos dari pendataan. Tujuannya, untuk mencegah dan menghindari penyebaran HIV/AIDS.
“Sekarang sangat sulit mengatasi permasalahan penyebaran HIV/AIDS di Bandungan. Sebab, rotasi PSK di sana cukup tinggi. Bahkan saat ini sudah membaur dengan masyarakat biasa, sehingga sulit terkontrol karena susah membedakannya,” tutur Taufik.
Bupati Semarang Mundjirin mengatakan, ada atau tidak ada penutupan Dolly di Bandungan tetap sama, yakni banyak PSK pendatang baru. Bahkan sebelum Dolly ditutup saja, kata dia, di Bandungan sudah banyak pendatang untuk bekerja seperti itu (menjadi PSK, Red). “Dolly tidak ditutup saja sudah banyak yang hijrah ke sini baik permanen maupun musiman. Pernah kita jumpai orang dari Batu Malang dan hanya kerja 3 bulan saja di sini,” kata Mundjirin.
Bupati menegaskan, pihaknya sudah mengintruksikan agar Dinas Kesehatan dan dinas terkait melakukan koordinasi untuk mengendalikan PSK, termasuk penyakitnya. Pihaknya juga sudah meminta pada pihak kecamatan maupun kelurahan serta masyarakat untuk ikut mengawasi. (tyo/aro)