Pembentukan KSM Formalitas

176

MANYARAN – Persidangan kasus perkara dugaan korupsi Bantuan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Sarirejo 2012 dengan terdakwa Ketua RW Kelurahan Sarirejo, Kecamatan Semarang Utara, Mahfud Efendi kembali digelar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Semarang, Senin (23/6). Sidang yang dilaksanakan kali kedua tersebut beragendakan pemeriksaan saksi-saksi.
Salah satu saksi yang dihadirkan adalah Ida Maryani, salah satu fasilitator program BKM yang memang dikhususkan untuk warga miskin. Dalam kesaksiannya, Ida menjelaskan bahwa pembentukan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) sebagai penerima dana bantuan dilakukan tanpa musyawarah oleh beberapa anggota. Sehingga pembentukannya sekadar formalitas.
”Seharusnya, selaku kelompok yang mengajukan program keswadayaan, menerima dana, mengerjakan kegiatan dan membuat laporan pelaksanaan dibentuk secara musyawarah dan diisi beberapa anggota,” bebernya.
Hal tersebut diketahui Ida belakangan setelah kasus tersebut terkuak. Ia bersama fasilitator lain tidak memverifikasi secara jelas lantaran berasumsi KSM telah berdiri sejak lama yaitu sejak 2002 dan telah berjalan dengan baik. ”Selain di kelurahan Sarirejo, kami juga membawahi kelurahan lain,” imbuhnya di hadapan majelis hakim yang diketuai Hastopo.
Ditambahkan Ida, kasus tersebut terungkap saat ia mulai menemukan kejanggalan terkait dugaan adanya penyimpangan. Setelah dana BKM diambil, ternyata dana tersebut tidak segera disalurkan dalam jangka waktu 2 x 24 jam. Saat ditanya, terdakwa berdalih sibuk melaksanakan pilgub karena menjadi PPS. ”Setelah kami desak, terdakwa mengakui menggunakannya untuk kepentingan pribadi dan tidak bisa mengembalikan,” ungkapnya.
Pendapat tersebut diperkuat dengan keterangan Jumadi, salah satu ketua KSM yang juga menjadi saksi dalam perkara tersebut. Ia membantah dilibatkan dalam musyawarah pembentukan KSM. Bahkan tahu-tahu namanya dipakai untuk formalitas pengambilan dana. ”Saya hanya dimintai tanda tangan. Tidak ada musyawarah sebelumnya,” ungkapnya.
Menanggapi kesaksian tersebut, terdakwa didampingi penasihat hukumnya Agung Oetoyo dan Lina Apriyani tidak membantahnya. Ia membenarkan apa yang dikatakan oleh beberapa saksi yang dihadirkan. Sidang kembali digelar Senin (23/6) dengan agenda yang sama. (fai/ton/ce1)