Konsentrasi Satrio Seno Prakoso di depan komputer sedikit buyar ketika telepon di kantornya berdering. Dengan tenang diangkatnya gagang telepon tersebut.

Dari ujung telepon, terdengar suara seorang lelaki yang mencari dirinya. Kebetulan telepon kantor memang didaftarkan atas namanya. Tanpa banyak bicara, Seno menjawab bahwa ia orang yang dicari lelaki tersebut.
Dengan ramah, lelaki tersebut menyapa Seno dan membawa kabar gembira. ”Katanya saya mendapat hadiah undian mobil,” tutur alumni program studi Sejarah Fakultas Sastra Universitas Diponegoro (Undip) Semarang ini.
Sejak si penelepon mengabarkan bahwa ia akan menerima hadiah mobil, Seno sudah curiga bahwa ini adalah modus penipuan. Ia sudah sering membaca berita penipuan dengan modus serupa di surat kabar.
Meski demikian, ia tak segera memutus sambungan telepon. Si penelepon dibiarkan menjelaskan panjang lebar tentang proses penerimaan hadiah. ”Saya sih bilang ya, ya saja di telepon,” katanya.
Cukup lama si penelepon berbicara dan mengatakan akan datang ke tempat Seno. Baru saat itu lah Seno bilang agar si penelepon tak perlu datang karena ia tahu kalau itu hanya modus penipuan. ”Setelah itu, ia (si penelepon, Red) marah-marah pakai kata-kata kotor. Gantian saya yang marahi dia dan telepon saya tutup,” jelas Seno.
Kejadian mirip ini juga dialami Dani Risyawati, sekretaris dekan pada sebuah perguruan tinggi negeri di Kota Semarang. Satu hari, dekan tersebut menerima pesan pendek (SMS) dari seseorang yang mengaku sebagai wartawan Jawa Pos. Dalam pesan tersebut dijelaskan, teman pengirim pesan yang juga wartawan sedang sakit parah sehingga ia minta bantuan dana untuk pengobatan. Pengirim pesan juga menyebutkan sebuah nomor rekening untuk pengiriman dana bantuan. Dekan tersebut lalu meneruskan pesan kepada Dani.
Beruntung, Dani tak memercayai begitu saja kabar tersebut. Kebetulan ia mengenal salah seorang wartawan di Jawa Pos Radar Semarang yang bisa dimintai konfirmasi tentang isi SMS tersebut. ”Langsung saya tanya ke teman wartawan, ternyata di Jawa Pos Radar Semarang tak ada nama wartawan seperti yang dijelaskan di SMS,” jelasnya.
Upaya penipuan ini terbongkar. Apalagi teman wartawan tersebut juga menunjukkan sejumlah berita bahwa nama pengirim SMS juga berusaha menipu dengan cara yang sama di sejumlah daerah. Ia telah dilaporkan ke polisi di Sukoharjo, Kudus dan sejumlah daerah lainnya.
Setelah yakin itu hanya upaya penipuan, Dani langsung melapor ke dekan agar tak mentransfer uang seperti yang diminta. Ternyata di pengirim SMS tak patah semangat, ia langsung menelepon dekan tersebut. Karena sudah mendapat penjelasan bahwa itu penipuan, maka dekan tersebut menolak mentransfer uang. ”Pas diangkat (teleponnya), Bapak menolak memberi sumbangan. Terus si penelepon langsung mengata-katain Bapak dengan kasar,” jelasnya. (ton/ce1)