Sempat Diejek, Kini Jadi Tren,

158

Ciptono, Penggagas dan Pencipta Batik Ciprat



Batik adalah warisan seni para leluhur bangsa Indonesia ini. Teknik pembuatannya, biasanya menggunakan malam dan canting pada selembar kain dengan pola tertentu. Namun Kepala Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Kota Semarang, Ciptono, menemukan teknik baru yang didamakan batik ciprat. Seperti apa?

ADENNYAR WYCAKSONO, Miroto

BATIK ciprat tercipta dari segala keterbatasan yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa. Namun kini menjadi karya luar biasa bagi anak-anak yang berkebutuhan khusus. Adalah Ciptono, sang kepala SLB yang memberikan dorongan kuat kepada anak didiknya.
Baginya, siswa berkebutuhan ganda yang bersekolah di SLB, memiliki kesempatan sama dengan manusia normal lainnya. Karena itu, harus diajarkan ketrampilan dan entrepreneurship. ”Mereka bukan produk Tuhan yang gagal, mereka juga punya kesempatan yang sama,” kata pria yang lahir di Semarang, 11 November 1963 lalu.
Karena itulah, pada dua tahun lalu Ciptono berusaha mengajarkan cara membatik kepada anak didiknya. Dengan segala keterbatasan, anak didiknya kesulitan menggunakan canting, yang memang membutuhkan ketelitian dan konsentrasi tinggi.
Setelah itu, dirinya berusaha menemukan teknik yang sesuai dengan kondisi anak didiknya. Terbersitlah teknik lain, yakni teknik ciprat. Hasilnya ternyata memiliki nilai seni tinggi. “Ya… Hasilnya sangat tidak diduga. Sangat indah dan memiliki gaya sendiri dibandingkan batik konvensional,” tuturnya penuh syukur.
Perbedaannya hanya pada tekniknya saja. Sedangkan proses perwarnaan, tekniknya sama dengan batik pada umumnya. “Ini salah satu upaya mengangkat dan mengakui kemampuan mereka,” tutur pria yang tinggal di Jalan Sendang Utara III/15 ini.
Kendati begitu, hasil karya siswanya sempat diejek beberapa orang. Namun tak mengurangi rasa bangga dalam diri Ciptono. Bahkan, hasil karya siswanya dijadikan baju kerja. ”Sempat mendapat ejekan. Tapi menurut saya, ini adalah karya seni. Bahkan Mantan Wakil Gubernur (Wagub) Jateng, Bu Rustriningsih mau mengenakan batik ini,” katanya penuh haru.
Kini, kata Ciptono, batik ciprat karya anak-anak SLB ini telah dipesan banyak orang. Ada dari pegawai BUMN dan kalangan pejabat lainnya. ”Jumlah pemesan terus bertambah banyak. Sekarang batik ciprat menjadi tren batik tersendiri,” ucapnya.
Agar tidak terjadi perebutan klaim pencipta di kemudian hari, katanya, batik ciprat karya anak-anak SLB ini telah dipatenkan dengan nama Batik Ciprat Inspirasi. ”Dengan nama itu, kami dan anak-anak SLB hendak menginsprasi banyak orang di Kota Semarang, Jawa Tengah, bahkan Indonesia,” harapnya.
Ciptono masih punya harapan, batik ciprat bisa dipakai semua kalangan dan PNS di Pemkot Semarang dan Pemprov Jateng sebagai seragam dinas. ”Harapan saya, agar semua orang tahu bahwa anak berkebutuhan khusus juga diberi anugrah dan kelebihan, bisa berkreasi menghasilkan karya yang sangat indah,” pungkas penyabet guru berdedikasi Kreatif Unika Soegijapranata 2006 dan pemenang Kick Andy Heroes 2010 ini. (*/ida)