DEMAK-Satuan Reserse Narkoba Polres Demak berhasil menangkap pembuat sekaligus pengedar obat kuat pria dan wanita palsu tanpa izin. Tersangka bernama Abdul Hakim, 40, warga Desa Ngawen, Kecamatan Wedung. Dalam penggerebekan dirumah pelaku itu, polisi menyita dan mengamankan berbagai barang bukti (BB). Yaitu, 2.500 botol kapsul Vimax. Satu botol berisi 30 butir kapsul dengan harga jual sebesar Rp 20 ribu per botol. Kemudian, sebanyak 1.200 botol cair merek potenzol dengan harga Rp 10 ribu perbotol. Lalu, sebanyak 10 botol kapsul merek Semenax dengan harga jual Rp 30 ribu perbotol. Selain itu, BB berupa 20 botol Vimax Oil dengan harga jual Rp 20 ribu perbotol. Tak hanya itu, petugas kepolisian juga mengamankan ribuan botol kosong, kardus dan label obat kuat tersebut, termasuk alat pres tutup botol, ATM BRI, BNI dan buku tabungan. Total nilai material BB yang disita itu mencapai Rp 60 juta. Kapolres Demak AKBP Raden Setijo Nugroho mengungkapkan, tersangka dibekuk karena membuat dan mengedarkan obat kuat tanpa izin pihak berwenang, termasuk dari Departemen Kesehatan. Menurutnya, pelaku sebelumnya telah mengetahui cara pembuatan obat kuat itu dari temannya di Jakarta. Karena tergiur hasil yang diperoleh, maka pelaku kemudian nekat memproduksi obat palsu tersebut. Untuk membuat obat kuat seksual ini, tersangka terlebih dulu membeli bahan-bahan berupa serbuk rempah-rempah dari toko jamu di Pasar Johar Semarang. Diantaranya, bahan berupa purwaceng, temu ireng, ginseng, pasak bumi dan lainnya. Selain itu, membeli botol kosong, kapsul kosong, kardus serta label dari Jakarta. “Setelah bahan tersedia, yang bersangkutan meracik sendiri. Barang-barang yang diproduksi itu kemudian dikemas dirumahnya dengan dibantu istri dan tetangganya. Selanjutnya, pelaku mengedarkan produk obat kuat itu tanpa izin edar ke luar kota, baik ke Jakarta maupun kota besar lainnya,”jelas Kapolres didampingi Kasubag Humas AKP Sutomo. Produk obat kuat itu diberi label kapsul Vimax, Semenax dan cairan Potenzol pada para pedagang jamu di ibu kota Jakarta, Semarang, Surabaya, Jogjakarta dan lainnya. Barang dikirim melalui paket bus Nusantara, Tiki dan JNE. “Sedangkan, uang pembayaran ditransfer ke rekening BNI dan BRI,”katanya. Kapolres AKBP Raden Setijo Nugroho menegaskan, pihaknya masih mendalami dan menyelidiki apakah memiliki jaringan pengedaran obat kuat lainnya atau tidak. Yang jelas, atas perbuatannya itu, pelaku dijerat dengan pasal 197 dan pasal 198 UU Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara.
Alumni MTs, Modal Awal Rp 10 Juta
Sementara itu, tersangka Abdul Hakim mengakui, bahwa usaha memproduksi obat kuat seksual itu sudah berjalan selama 5 bulan terakhir. Semua bahan dibuat dirumahnya di Desa Ngawen, Kecamatan Wedung. “Modal awal daya hanya uang sebesar Rp 10 juta. Modal itu kemudian saya gunakan untuk  kulakan bahan baku dari Pasar Johar Semarang serta membeli peralatan yang diperlukan. Usaha pembuatan obat kuat ini saya tekuni karena sebelumnya banyak yang pesan, utamanya dari Jakarta. Obat kuat ini saya jual ke grosir-grosir,”ujar Abdul Hakim, alumni Madrasah Tsanawiyah (MTs) Tarbiyatul Ulum, Kauman, Wedung ini. Dia menambahkan, pembuatan obat kuat itu dilakukan untuk membantu para kaum pria maupun wanita yang mengalami gangguan vitalitas dalam hubungan suami istri. “Biar bisa greng,”katanya sembari malu-malu. (hib)