Penolak Pabrik Semen Dipersilakan Ajukan Gugatan

106

Ganjar Diancam Mau Disantet

GUBERNURAN – Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengaku menerima banyak ancaman melalui SMS maupun Twitter terkait penolakan pembangunan pabrik semen di Rembang. Gubernur dari PDI Perjuangan tersebut meminta para pihak yang menolak pembangunan, menggugat analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) jika menilai keberadaan pabrik akan merusak lingkungan.
Menurutnya banyak SMS maupun mention di akun Twitter-nya yang bernada ancaman. ”Ada yang ngancam-ngancam keluarga saya juga, bahkan mau nyantet. Nggak apa-apa, itu bentuk kemarahan rakyat. Tapi mari kita selesaikan secara baik,” katanya.
Dia menambahkan jika selama ini banyak pihak yang menolak pabrik semen khawatir akan dampak lingkungan yang dihasilkan. Karena itu dia mempersilakan agar amdal pabrik semen digugat. ”Silakan dibedah dokumen amdalnya. Kalau memang amdalnya dianggap bermasalah, digugat saja. Kalau gugatan menang, akan saya cabut amdalnya,” imbuhnya. Langkah tersebut dinilai lebih produktif dan membuktikan warga sangat paham terhadap permasalahan di lingkungan calon lokasi pabrik.
Di Kabupaten Rembang sendiri saat ini akan didirikan dua pabrik semen. Yaitu milik PT Semen Indonesia yang telah dilakukan peletakan batu pertama di Desa Tegaldowo, Kecamatan Gunem. Kemudian PT Semen Indonesia Rembang di Desa Sendangmulyo, Kecamatan Sluke yang sedang dalam proses pengurusan amdal.

Menurut Ganjar persoalan di Rembang sudah berkembang ke arah yang tidak menguntungkan. Beberapa media memberitakan aksi penolakan pabrik semen pada Senin (16/6) secara ngawur dan tidak sesuai fakta. Ganjar yang merasa tidak tahu-menahu kejadian justru menjadi pihak yang disalahkan. ”Media menulis tidak konfirmasi, langsung salahkan saya, kan nggak fair. Ada diberitakan bentrok, padahal di video rekaman tidak ada bentrok,” jelasnya.
Dijelaskannya, amdal adalah dokumen yang penyusunannya melalui proses yang diamanatkan undang-undang. Jika terjadi masalah, maka koreksi atas dokumen juga harus sesuai mekanisme yang diatur. ”Tidak bisa asal dicabut, kalau apa-apa dikoreksi sendiri ya tidak ada kepastian hukum,” tuturnya.
Permintaan Ganjar untuk menggugat amdal telah ia sampaikan pada pertemuan dengan aktivis dan warga penolak pabrik semen di Gubernuran, Jumat (20/6) lalu. Dalam pertemuan, Ganjar meminta data-data lapangan, seperti berapa lahan pertanian yang subur, berapa warga yang menolak, berapa warga yang menerima hingga data tentang cekungan karst di Watu Putih. Ganjar menyatakan siap untuk datang ke Rembang guna mencari solusi terbaik atas polemik pendirian pabrik semen.
Dalam pertemuan itu, para aktivis lingkungan di Rembang menyatakan setuju untuk mengajukan gugatan atas izin pendirian pabrik semen. ”Kami akan mengajukan gugatan untuk menolak rencana pendirian pabrik semen,” kata Ming Lukiarti, warga dari Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng. (ric/ton/ce1)